Sabtu, 02 Maret 2013

Orasi Penerimaan Mahasiswa Baru Unpad 2012

Orasi Penerimaan Mahasiswa Baru


Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamualaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Teman-teman mahasiswa, selamat datang di dunia baru!

Di dunia kampus, kita akan menemukan pilihan-pilihan. Setiap pilihan menentukan konsekuensi yang akan kita dapatkan. Mari kita memulainya dari akhir karena pilihan mendasar yang kita hadapi di kampus ini adalah pilihan: ‘mau jadi apa kita di akhir nanti setelah lulus dari kampus ini?’.

Kalau kita ada di kampus ini hanya dalam rangka mengejar gelar untuk mencari pekerjaan, jangan heran jika pada akhirnya kita hanya akan menjadi pekerja-pekerja atau buruh-buruh bergelar sarjana. Kita tidak akan menjadi bagian dari perbaikan dan kebangkitan bangsa ini. Padahal bangsa ini memiliki potensi luar biasa. Negeri ini sejak dulu hingga kini terus menjadi sorotan dunia, karena negeri ini cuma kekurangan satu faktor saja untuk bisa menjadi negeri yang jaya, yakni faktor sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas.
Ingatlah bahwa sumber daya manusia terpenting dari sebuah bangsa adalah pemuda, terutama pemuda-pemuda minoritas yang mendapat anugerah untuk belajar sampai perguruan tinggi yang disebut mahasiswa. 

Seorang lelaki bijak di masa lalu pernah berkata,
Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.

Tanamkan niat bahwa keberadaan kita di kampus ini adalah dalam rangka belajar dan membina diri untuk menjadi manusia unggul yang kelak akan mengubah negerinya bahkan mengubah dunia. Untuk itu kita juga harus memastikan pembelajaran kita tidak boleh terbatas pada ruang-ruang sempit bernama kelas dan jadwal-jadwal kuliah yang telah ditentukan dosen. Pembelajaran kita adalah pembelajaran yang luas. Waktunya tidak terbatas jam dan hari. Tempatnya bisa di lapangan olahraga, di panggung seni, di kantin atau warung tempat kita berdiskusi, bahkan juga di jalanan atau pelosok desa tempat kita melihat masalah dan belajar untuk jadi bagian dari solusi.

Sekitar 35 tahun yang lalu, Agustus 1977, sastrawan Indonesia bernama Rendra membacakan sebuah puisi di hadapan mahasiswa-mahasiswa di Bandung. Puisi itu berjudul "Sajak Sebatang Lisong". Dalam potongan sajaknya ia berkata,
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Dan di akhir sajaknya ia berkata,
Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.

Kalau ada satu inspirasi lagi, kita bisa mendapatkannya dari sebuah wilayah timur Papua Nugini; yaitu sebuah tempat bernama Bouganville. Bouganville pernah menjadi tempat konflik antara penduduk asli dan pendatang. Penduduk asli terusir ke hutan sehingga hidup dalam keterbatasan. Justru dalam keterbatasan mereka berkembang. Mereka tumbuh menjadi masyarakat yang kuat dan menciptakan berbagai alat dengan memanfaatkan sumber daya alam yang terbatas yang ada di sekitarnya. Mereka memegang slogan Mekim Na Savvy yang artinya "Belajar Sambil Berkarya".

Mekim Na Savvy yang artinya “Belajar Sambil Berkarya” ini juga bisa kita jadikan slogan untuk hari-hari kita di kampus. Hari-hari yang penuh karya. Hari-hari yang penuh oleh hal-hal produktif. Masa muda adalah masa emas untuk berkarya. Kalau kita jengah dengan kondisi yang ada di sekitar kita, maka berbuatlah sesuatu.

Setiap orang dari kita pasti memiliki minat di salah satu bidang kontribusi. Baik itu bidang seni, budaya, olahraga, sosial, politik atau yang lainnya, jadikan ia medan perjuangan untuk menghasilkan sebuah karya bagi almamater dan masyarakat luas.

Karya terbaik hanya lahir dari kolaborasi dan sinergi potensi-potensi yang ada. Untuk itu pembelajaran dan kontribusi yang kita lakukan mesti dibungkus dalam kolaborasi dan sinergi antarelemen. Kolaborasi dan sinergi dalam suasana kekeluargaan inilah yang akan melipatgandakan nilai karya yang bisa kita hasilkan. Generasi muda adalah cerminan masa depan bangsa. Jika kita mampu bersatu dalam kontribusi yang sinergis di masa muda, maka kita juga bisa optimis bahwa kelak bangsa ini dapat bersatu dalam kontribusi yang sinergis untuk meraih kejayaannya.

Belajar, berkarya, bersinergi. Tiga hal yang merangkum masa-masa emas kita sebagai mahasiswa. Semoga dengan tiga hal itu kita bisa menjadi bagian dari kebangkitan dan kejayaan negeri ini.

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!


***

sebelum orasi, panitia PMB  minta saya bikin naskah karena panitia2 dari kalangan dosen pengen tau saya mau ngomong apa. akhirnya tulisan ini dibuat. pada kenyataannya, tentu ngga persis sama. bahkan, ada beberapa bagian yang saya tambahin (improvisasi) waktu orasi dan ternyata justru itu yang diinget sama orang-orang. tapi karena yang terdokumentasi adalah teks ini bukan orasi aslinya, jadi ini yang bisa saya masukin ke blog :) 

1 komentar:

  1. orasi yang bergelora dalam jiwa, membangunkan yang tertidur dalam angannya, membangkitkan yang terkubur dalam dunia!!

    Hidup Mahasiswa!!Hidup rakyat Indonesia!!

    BalasHapus