Kamis, 27 Januari 2011

tak ingin ku kembali #2

rasa jenuh terkadang menerpa
hadapi hari seperti biasa
dunia yang s'makin tak bersahabat
ingin kutinggalkan walau sesaat
(Sepohon Rindang, Faliq)

Ya, kalo udah berhadapan sama kondisi yang kedua (ketarik2 untuk 'kembali'), rasanya pengen pergi jauh2 dari dunia. Ngikutin cara tobatnya seorang pembunuh 100 orang yang di kisahnya dianjurin untuk pindah kota oleh sang 'alim. Tapi kalo gitu, jadi ga nerapin sunnah rasul dalam haditsnya:

“Orang mu’min yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mu’min yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka”.

Diperlakukan dengan buruk aja lebih baik bersabar, apalagi cuma jadi ujian konsistensi. Juga, kalo semua yang baik ninggalin wilayah yang ga baik, siapa yang akan memperbaiki manusia? Siapa yang akan jadi muslim sejati: 'shaleh dan menyalehkan'?
Sekali lagi, emang dilematis.

***

Anis Matta menutup tulisannnya dengan mengatakan,

"Maka, para pahlwan mikmin sejati berdiri tegak disana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan: tidak ada kepuasaan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan".

Kita emang perlu ngelatih prinsip sederhana:

"tak lemah karena cacian,
tak bangga karena pujian dan gemuruh tepuk tangan".


Whatever they say, just go straight ahead!

Bukannya ga tau caranya. Bukan juga karena ga bisa. Ga mungkin ga bisa. Cuma, seperti halnya Adam a.s. dulu:

"Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tapi dia lupa dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya". [QS Thaha (20):115]

Ya Allah, teguhkan hati kami dalam agamaMu.
Ya Allah, teguhkan hati kami dalam ketaatan kepadaMu.
Ya Allah, berikan kami kekuatan untuk bertahan,
karena kami tahu..
hanya yang bertahan yang kan sampai ke tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar