Sabtu, 13 Desember 2008

Konsultasi: Sabar



tan, sejauh mana sih kita harus sabar?
gimana caranya supaya kita bisa tetep sabar?

Seorang temen nanya gini lewat SMS. Dari situ, saya pikir temen saya ini lagi ada masalah. Saya terdorong untuk nolongin dia dan bertekad untuk ngejawab sebaik-baiknya. Tapi, karena khawatir salah jawab, akhirnya saya mikir-mikir dulu. Karena mikirnya kelamaan, akhirnya lupa ngejawab sampe kalo ga salah 2 hari. Tapi alhamdulillah akhirnya saya jawab juga lewat SMS.

Asw. Nganu (nama samaran), maaf baru bales. Soalnya takut salah jawab.

Saya pikir, sabar itu gambaran kecerdasan seseorang. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling cerdas. Contohnya Rasulullah.

Sabar itu saya artiin sebagai kemampuan seseorang untuk nguasain nafsu/emosinya dengan hati/akalnya. Jadi, sabar bukan pasrah. Pasrah
& temperamen sama-sama emosional, cuma yang satu rendah, yang satu lagi emosi tinggi.

Rasul pas diperangi reaksinya bisa diam, bertahan, bisa juga nyerang balik. Tergantung pertimbangan kondisinya. Yang penting berbuat yang terbaik menurut hati/akal, bukan nafsu/emosi. Wallahu a'lam. (Terbantu ga?)

Itulah jawaban saya. Tapi pas saya inget-inget lagi pertanyaannya, saya ngerasa kayaknya belum kejawab semua. Jadi saya kirim sms tambahan.

(+)an:
Jadi sabar itu ga ada batasnya, karena setiap saat kita harus selalu sabar (berbuat sesuai hati/akal). Tapi, berdiam diri itu ada batasnya, ya tergantung kondisi..

Yang pasti, Allah bersama orang-orang yang sabar dan setan selalu bersama orang-orang yang dikuasai emosi/hawa nafsunya. Wallahu a'lam.


Begitulah jawaban saya..

Jumat, 12 Desember 2008

Konsultan kacangan..

Saya rasa ngga jarang orang nanya ke saya suatu masalah dalam hidupnya yang saya rasa ini bukan pertanyaan biasa. Kadang masalah pribadi, organisasi, atau apapun. Yang pasti, sebenernya saya ngerasa saya aja belom bener, tapi ya akhirnya saya coba jawab sebisa saya. Niatnya nolong orang aja. Semoga dinilai sebagai ibadah. Kalo salah, semoga Allah ampuni dan ada hikmahnya.

Nah, di blog ini saya mau bagi-bagi sedikit dari beberapa jawaban saya untuk masalah-masalah orang lain yang pernah nanya ke saya. Kalo ada yang terinspirasi, inget.. Segala puji cuma untuk Allah. Kalo ada yang punya pandangan lain, silakan isi komen-nya. Semoga bermanfaat untuk yang baca, juga bermanfaat buat saya.


Makasih..

Semoga Allah membalas kebaikan dengan kebaikan yang jauh lebih besar..


1 orang pasien tidak sama dengan 1 nyawa

Waktu Bang Kemal, kakak pengajar saya di NF cerita ke saya tentang kedokteran –yang akhirnya saya tertarik masuk kedokteran juga karena dia-, salah satu potongan cerita yang saya inget adalah betapa bahagianya seorang dokter saat berhasil nyelamatin nyawa seorang direktur perusahaan yang hidup-matinya bisa nentuin nasib hidup ribuan karyawannya. Belum lagi kalo ternyata karyawannya itu adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Kebayang betapa berartinya nyawa sang direktur.

Itu satu contoh. Contoh lainnya banyak. Senggaknya, sangat mungkin ada cewek konyol yang bunuh diri karena ditinggal mati pacarnya. Inilah maksud judul tulisan ini. Tentu aja setiap orang cuma punya satu nyawa. Tapi, satu hal yang selalu pengen saya inget yaitu ada orang-orang yang kalo dia meninggal, maka bisa berdampak orang lain meninggal

Pada awalnya, lewat pemikiran ini saya jadi semangat karena besarnya manfaat yang bisa saya kasih ke orang lain dengan ilmu saya nantinya. Tapi, belakangan justru sebaliknya. Saya jadi tersadar kalo jadi dokter emang ga bisa cuma punya ilmu pas-pasan. Cuma cukup buat lulus dan dapet gelar dokter, terus mikirin cara ngumpulin uang sebanyak-banyaknya. Na’udzhubillah.

Liburan idul adha yang agak panjang kemaren, saya jadi tersadar lagi sama hal ini. Selain karena selama liburan saya banyak nonton film kedokteran kaya “Team Medical Dragon”, “ER” dan “House”, saya juga diingetin lagi sama ayah saya yang di rumah sakit tempat kerjanya baru aja ada pasien yang meninggal. Jangan sampe, ada pasien yang ga ketolong karena bodohnya saya. Jangan sampe, suatu saat nanti saya ga bisa nolong pasien karena selama ini saya males dan ga total dalam belajar. Apa yang mau saya bilang ke keluarga pasien? Apa jawaban saya pada Allah di akhirat nanti? Masya Allah.. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah..

***

Mungkin bener kata orang-orang, “selain guru, dokter adalah profesi yang udah dijamin surga karena manfaatnya yang besar untuk orang lain”.

Tapi mungkin bener juga kata temen saya, “kalo dokter ga belajar bener-bener selama pendidikannya dan suatu saat dia jadi ga bisa nolongin pasien karena kebodohannya, mungkin tempatnya di neraka”.

Wallahu a’lam..

Selasa, 21 Oktober 2008

Motivasi Sederhana

Apanya yang kurang dari neraka?
Allah dan RasulNya telah menggambarkan neraka dengan sangat menakutkan. Telah jelas bahwa ia adalah seburuk-buruk tempat kembali. Telah pasti bahwa siksaan di dalamnya tiada tanding tiada banding. Tapi mengapa masih saja mendekatinya? Mengapa masih terlena di pinggir jurangnya? Mengapa masih terdiam di depan gerbangnya?

Kau pun tak memikirkannya. Seakan tak mungkin dimasukkan ke dalamnya. Seakan jauh darinya. Seakan mampu bertahan di dalamnya. Atau seakan memasukinya pun tak apa.

Lalu apanya yang kurang dari surga?
Keindahannya begitu memesona. Gambarannya tak pasti, tapi yang pasti indahnya takkan pernah terbayang oleh manusia. Kenikmatan dan kebahagiaan di dalamnya amat menjanjikan. Tapi mengapa tak tergerak tuk mengejarnya? Mengapa tak beranjak memperbaiki diri agar terus mendekatinya? Mengapa alasan-alasan sepele membuatmu meninggalkannya?

Seakan kau tak membutuhkannya. Seakan keindahannya tidaklah seberapa. Seakan kau pasti memasukinya. Seakan dirimu kini telah cukup untuk mendapatkannya. Seakan amalmu telah cukup untuk menjadi tiketnya.

Sadarlah, kawan..
Jangan biarkan dirimu terseret ke neraka..
Jangan biarkan dirimu menjauhi surga..
Pun jangan pernah berputus asa dari rahmatNya..
Tetaplah berharap ampunanNya..
Jangan pernah ada kata menyerah..
Untuk meraih ridhaNya..

-------------------------------
.sedikit motivasi sederhana
.tapi sudahkah kita betul-betul memaknainya?


Rabu, 30 Juli 2008

Hidup Mengajarkan Saya #1

Bismillaah..

Dengan menjadi muslim saya mengerti..
betapa indahnya hidup di bawah naungan islam
dan selalu berpegang pada ajarannya yang sungguh sempurna

Menjadi anak membuat saya merasakan..
bahwa sulit bagi seorang anak laki-laki untuk mengungkapkan rasa sayangnya, 
meski pada keluarganya sekalipun

Dengan menjadi ketua MD saya belajar..
bahwa kita bisa benar-benar mencintai seseorang tanpa memimpinnya, 
tapi kita takkan bisa benar-benar memimpin seseorang tanpa mencintainya

Persahabatan mengajarkan saya..
bahwa sangat sulit membangun rasa cinta,
tapi begitu mudah untuk mengakhirinya

Menjadi kakak menjadikan saya mengerti..
bahwa keteladanan jauh lebih penting dalam membentuk seseorang
ketimbang konsep-konsep teoritis

Dengan menjadi adik saya mengerti..
bahwa mengerjakan dengan baik apa yang telah kita rencanakan 
sepenting merencanakan dengan baik apa yang akan kita kerjakan

Menjadi siswa SMA 3 menyadarkan saya..
bahwa tak ada kata berhenti untuk berjuang, belajar, dan berkembang..
dan rasa puas hanya akan mematikan potensi..

Dengan menjadi seorang Muhammad Tanri Arrizasyifaa saya tahu..
bahwa hidup yang saya jalani begitu indahnya 
dan rasa syukur ini takkan pernah bisa membayar semua nikmat yang Allah berikan
hanya dengan amal shaleh saya mengharapkan ridhaNya

Alhamdulillaah..

Kalau aku punya teman..

Kalau aku punya teman, aku tidak meminta teman yang perkasa
Yang dengan ototnya bisa menakuti orang2
Cukuplah teman yang punya kekuatan jiwa
Yang bisa bersikap dewasa saat kebanyakan orang berpikir kekanak2an

Kalau aku punya teman, aku tidak meminta teman yang kaya raya
Yang dengan uangnya bisa menjajaniku secangkir starbucks atau sepiring pizza
Cukuplah bagiku seorang teman yang kaya akan budi pekerti
Yang karakternya dapat kujadikan teladan

Kalau aku punya teman, aku tidak meminta teman yang punya kekuasaan
Yang dengannya bisa mempermudah segala urusan
Cukuplah bagiku teman yang mampu menguasai dirinya
Yang sikapnya tak mudah dipengaruhi orang lain
Yang tetap teguh apapun yang terjadi

Kalau aku punya teman, aku tidak meminta teman yang jenius
Yang dengan otaknya bisa mengajariku fisika
Cukuplah bagiku teman yang otaknya haus akan pembelajaran
Yang akan selalu bersamaku mengembangkan diri

Kalau aku punya teman, aku tidak meminta teman yang sempurna
Cukuplah bagiku teman yang juga mau memahami bahwa akupun jauh dari kesempurnaan
diinspirasi tulisan Prie G.S.
----------------------------- 
13 Mei 2007
05:08
@ sekre DKM AF

Tempat Pembelajaran Tanpa Batas

Seorang guru bimbel saya sangat semangat promosi ITB. Kalimat pamungkasnya, “kamu boleh kuliah jurusan apa aja, asal di ITB”. Waktu saya tanya alasannya, guru saya itu ngejawab, “karena, ITB itu tempat pembelajaran yang ga terbatas. Batasnya tergantung kita sendiri. Kita sendiri yang nentuin batas pembelajaran kita. Banyak orang yang berubah banget di ITB. Ada yang jadi keren banget. Ada juga yang berubah jadi ancur banget”.



Orang-orang yang denger itu kadang bingung, kadang senyum-senyum. Saya termasuk yang senyum-senyum. Alasannya dua. Pertama, karena tebakan saya bener. Saya udah ngira alasannya itu. Yang kedua, karena ada fakta lain yang saya tau.



Saya yakin ‘pembelajaran’ yang dimaksud guru saya itu, bukan berarti proses belajar mengajar atau perkuliahan yang cuma berbau akademis. Tapi lebih dari itu, ‘pembelajaran’ di sini maksudnya ‘proses membekali diri untuk jadi manusia yang lebih baik dan menjalani kehidupan nyata ketika dewasa nanti’. Begitulah kira-kira. Dan kalau ITB disebut ‘tempat pembelajaran tanpa batas’, saya bersyukur pernah sekolah di sma 3. Karena saya rasa sma 3 juga layak dapet predikat itu: tempat pembelajaran tanpa batas. Keren banget kan sebutannya? ^^



Kualitas diri, ibarat entalpi. Saya ga tau berapa nilainya. Saya ga tau saya orang hebat atau orang yang ga ada apa-apanya. Tapi, saya bisa ngerasain ‘delta’-nya. Entah di mana titik awal saya dan di mana titik akhirnya, tapi saya bisa tahu nilai perubahannya. Seberapa besar perubahan yang terjadi sama diri saya. Berapa banyak hal yang udah berubah dari dalam diri saya.



Coba inget prinsip pembelajaran. Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Artinya, semakin besar ‘delta kualitas diri’ kita, semakin beruntung kita. Semakin kecil ato malah minus, semakin rugi kita. Karena kalau minus, artinya ‘nilai hasil reaksi lebih kecil dari sebelum reaksi’.



Atas dasar itu, saya ngerasa jadi orang yang sangat beruntung karena nilai ‘delta’ saya sangat besar. Entah kalo yang dibandingin adalah ‘nilai kualitas’-nya, tapi ini soal ‘delta’. Tentang perubahan. Selama di sma 3, saya belajar banyak hal. Belajar ‘seharusnya gini’. Belajar ‘gini caranya’. Belajar ‘jangan gitu’, dan belajar-belajar yang lain. Ada yang bentuknya hard skill, soft skill, atau bahkan cuma perubahan cara pandang terhadap sesuatu. Di sma 3, bisa kenal temen-temen yang hebat. Saya banyak belajar dari kehebatan orang-orang sekitar saya. Sengaja ataupun nggak, saya terpengaruh sama orang-orang yang luar biasa.



Kini tanpa terasa saya hampir sampai pada akhirnya. Akhir masa pembelajaran sebagai siswa sma 3. Waktu yang sekitar tiga tahun ini rasanya sangat bermakna. Syukur pada Allah Yang Mahakuasa yang dengan izinNya saya dikasi kesempatan sekolah di sma 3. Apalagi kalo inget jalan saya masuk ke sma 3 yang ga biasa.



Untuk itu, bersyukurlah, kawan.. Karena kita pernah sekolah di sini. Dengan segala kekurangannya, sekolah ini udah ngasi kita banyak hal. Kalau ada yang ga ngerasain hal yang sama kaya saya, maka saya saranin, kelak di tempat lain jalanilah kehidupan yang penuh pembelajaran. Dengannya, diri kita akan memiliki nilai perubahan yang besar. Dan kita akan menjadi orang yang beruntung. Mungkin paling beruntung..
ditulis untuk buletin Nasi Oedoek (MD-AF'08)

Bukan Menjadi Seseorang, Tapi Menghasilkan Sesuatu..

coba luangkan waktu sejenak untuk mengenang masa ketika sma 3 menjadi satu bagian dari mimpi kita. ketika sma 3 baru ada di pikiran kita. ketika secara status, kita belum menjadi siswanya. saat itu mungkin kita membayangkan betapa hal itu menjadi obsesi. saat itu mungkin kita membayangkan bisa menjadi bagian dari sejarahnya. menjadi siswanya, seperti orang-orang terdahulu yang kita kenal. lalu pada akhirnya mimpi itu pun tercapai.



setelahnya, secara otomatis tak ada lagi dalam pikiran kita cita-cita untuk bisa menjadi siswa sma 3 karena status itu sudah kita dapatkan. maka bergeserlah mimpi kita menuju status lain yang kita cari. entah itu menjadi seorang ketua organisasi, aktif di sekolah, berprestasi di bidang akademis, atau mungkin juga sekedar status yang tidak formal seperti populer, eksis, berpengaruh, kuat, atau entah status apa yang mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita sesederhana apapun status itu. sejak pertama kali kita menjejakkan kaki sebagai siswa sma 3 sampai saat ini, mungkin proses itu terus berjalan. proses untuk mengejar status yang kita inginkan. menjalani proses yang saya sebut proses 'menjadi seseorang'.



katanya, "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya". menjadi siswa sma 3, menjadi ketua organisasi, menjadi populer, menjadi mahasiswa ITB, menjadi tentara, menjadi dokter, menjadi pengusaha, menjadi presiden, atau menjadi apapun kita, bisa mengantarkan kita pada status itu. status 'sebaik-baik manusia'. sekali lagi, semua status itu, BISA mengantar kita pada status 'sebaik-baik manusia'. bisa, karena memang tidak mustahil. bisa, karena mungkin juga tidak. bisa, juga karena belum tentu.



status ‘sebaik-baik manusia’ hanya akan didapat ketika kita bisa memenuhi syaratnya: bermanfaat bagi manusia. terdengar klise, tapi begitulah hidup. mengandung banyak kalimat klise yang lahir dari lisan manusia-manusia besar. maka, saat kita mengabaikan ungkapan-ungkapan klise yang sering kita dengar, bisa jadi bukan karena kedangkalan makna dari kalimat itu, tapi lebih disebabkan pikiran kita yang terlalu 'sederhana' hingga tak sanggup mengikuti jalan pikir mereka: manusia-manusia besar yang mengukir sejarah dengan mahakarya. Dan sebagian dari karya mereka adalah hikmah 'klise' yang yang mereka ucapkan dan sampai di telinga kita tapi seringkali hilang dalam sekejap dari pikiran kita.



di salah satu edisi JALAN TOL, pernah ada kalimat yang bunyinya kira-kira begini, "sukses belum tentu bermanfaat, tapi bermanfaat sudah pasti sukses". maka saudaraku, jika menjadi siswa sma 3 adalah sebuah kesuksesan, menjadi mahasiswa ITB adalah sebuah kesuksesan, menjadi dokter adalah sebuah kesuksesan, menjadi pengusaha adalah sebuah kesuksesan, atau menjadi presiden adalah sebuah kesuksesan, pada dasarnya kesuksesan itu baru menyentuh kesuksesan individu. Kesuksesan yang paling rendah. Bahkan, sebagian orang menganggap ia bukanlah kesuksesan. Karena nilai hidup kita sebagai manusia, terletak pada sejauh mana kita bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia lain. Sejauh mana hidup kita menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain. Inilah yang dilakukan oleh manusia-manusia besar sepanjang sejarah. Mereka pastilah orang-orang yang hidupnya betul-betul berdampak bagi masyarakat. Bukan hanya masyarakat dalam cakupan lingkungan tempat tinggal. Tapi lebih jauh lagi masyarakat dunia.



Di samping itu, sukses juga bisa mengantar kita pada predikat ‘seburuk-buruk manusia’. Beberapa kali saya mendengar langsung dari mahasiswa ITB bahwa yang membangun Indonesia memang orang-orang ITB. Tapi, alumnus ITB juga yang membuat Indonesia hancur lebur. Para koruptor kelas kakap di negeri ini, jelas bukan orang bodoh. Mereka bukan orang susah. Tapi dengan kapasitas mereka-lah dengan mudahnya bangsa ini bisa ‘diacak-acak’.



Kini kita semakin dekat ke terminal yang akan mengantar kita pada mimpi yang baru. mimpi kita selanjutnya. Ke gerbang mimpi untuk menjadi seseorang yang lebih lagi. menjadi mahasiswa kampus mana pun, atau mungkin tidak menjadi mahasiswa sekalipun, yang pasti status kita akan berubah dan kita telah memiliki bayangan sendiri, status apa yang kita harapkan melekat pada diri kita setelah lulus. begitu pun setelahnya.



Tapi, hati-hati, kawan.. Jangan terjebak dalam proses ‘menjadi seseorang’. Setelah lulus, misalnya, kita boleh saja membayangkan diri kita selanjutnya menjadi apa. lalu setelah menjadi mahasiswa, kita akan menjadi apa lagi. begitu terus sampai akhirnya berakhir di ujung usia kita. Tidak salah jika kita menjalani proses ‘menjadi seseorang’. Yang perlu kita sadari, bukan itu akhir dari semua yang kita lakukan. Status-status itu hanyalah terminal-terminal bagi kita menuju status ‘sebaik-baik manusia’. Kesuksesan hidup yang kita raih adalah potensi. Semakin sukses hidup kita, semakin besar potensi diri kita. Potensi itu sendiri bisa diarahkan pada kebaikan maupun kebathilan. Dan kuncinya, bukanlah menjadi siapa kita, tapi seberapa besar manfaat yang kita hasilkan.

ditulis untuk buletin Nasi Oedoek (MD-AF'08)

Sang Jiwa kini..

sang jiwa beranjak mendunia

mengisi ke dalam lalu pancarkan isinya

mencoba meresah karena hasratnya terlalu gagu tuk gelisah

pun terlalu malu untuk sekedar pasrah

semoga seperti tanah yang dipijaknya,

diri ini tumbuh bersama masa

menanam harapan yang menggerakkan perubahan

karena diri ini cukup tahu diri

bahwa citanya terlalu agung tuk sekedar dibicarakan

dan sebuah peradaban hanya bisa dibangun oleh hamparan jiwa yang tak terlukiskan