Sabtu, 01 Agustus 2009

Belajar Cinta di Lembah Kasih

Bismillah, kami pun melangkah. Sore itu, kami bertekad mengejar sunset di puncak. Sejauh ini, rencana perjalanan kami menaklukkan Gunung Gede dan Pangrango memang masih berjalan lancar. Insya Allah, kami bisa sampai di puncak Pangrango sebelum gelap. Rencananya kami akan mendirikan tenda di Lembah Mandalawangi, padang edelweiss yang terletak tidak jauh dari puncak Pangrango.

Singkat cerita, beranjak petang hari semakin gelap dan kami belum sampai di puncak. Dengan nada optimis, kami saling menyemangati, “Ayo, sebentar lagi kita sampai puncak! Insya Allah maghrib kita bisa sampai di puncak”. , Kami tetap berjalan dengan sesekali beristirahat karena lelah atau harus menunggu teman yang fisiknya mudah lelah.

Hari sudah benar-benar gelap saat kami justru terpisah menjadi dua rombongan karena jalan memang tidak begitu jelas. Kadang bercabang, kadang tampak seperti bukan jalan karena terhalang pepohonan yang tumbang. Di titik ini kami mulai harus menyalakan senter sebagai penerang jalan. Alhamdulillah akhirnya kami bisa berkumpul lagi menjadi satu rombongan. Pendakian kami lanjutkan sambil sesekali mendongakkan kepala ke langit. Kami bisa melihat langit yang hitam terang di balik pepohonan yang hitam gelap menjulang ke langit.

“Lihat, sepertinya kita sudah dekat. Sudah tidak ada pepohonan yang teramat tinggi lagi,” begitu kata salah seorang di antara kami. Sekuat tenaga, kami mendaki dengan harapan puncak sudah dekat.

Waktu menunjukkan jam 8 malam ketika kami sampai di suatu tanah yang agak lapang, tapi tetap sempit untuk mendirikan tenda. Kami beristirahat sambil melihat langit yang dihiasi bintang dan bulan yang nyaris purnama. Indah sekali. Obrolan yang dibumbui canda tawa pun ikut mewarnai.

“Bagaimana kalau kita dirikan tenda disini?” usul seseorang di antara kami. “Ini sudah terlalu malam dan kita sudah lelah. Kita bisa makan malam dulu disini, beristirahat, besok pagi kita lanjutkan perjalanan ke puncak”.

Yang lain terdiam. Suasana hening sejenak. Usul tersebut benar-benar ide bagus dalam kondisi saat itu. Badan kami lelah. Perut lapar. Pakaian dan sepatu kami basah oleh keringat dan aliran air yang kami lewati di tengah perjalanan. Kami kedinginan. Alasan kami untuk berhenti sudah kuat dan lengkap.

“Kalau begitu, kita hanyalah camper, bukan climber,” ujar seorang yang lain. Kalimatnya mengingatkan kami pada konsep pembagian manusia berdasarkan daya tahannya untuk berjuang. Ada 3: quitter, camper, dan climber.

Ya, betul. Kita harus tetap berjalan sampai puncak. Selama masih realistis, pilihan-pilihan lain hanya godaan yang muncul saat kita lemah. Kami juga jadi teringat tentang Advesity Quotient (AQ) yang akhir-akhir ini jadi “Q” yang katanya paling menentukan keberhasilan seseorang. Kami harus tetap berjalan. Sederhananya, kami sudah kepalang tanggung. Badan kami memang lelah. Perut kami betul sudah lapar. Sekujur tubuh benar-benar basah. Dingin itu benar kami rasakan. Tapi, semua itu justru harus semakin melecutkan semangat kami. Semua itu menjadi alasan kami untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Karena semakin malam, semakin gelap, semakin lelah, semakin lapar, semakin basah, semakin dingin, di sisi lain juga berarti semakin dekat ke puncak. Entah kapan kami akan sampai, tapi selama kami masih bisa melanjutkan pendakian, kami akan tetap bertahan untuk terus berjalan. Tak peduli kaki ini sudah lelah, tak peduli lagi badan kami kedinginan karena baju yang basah. Yang kami tahu, semakin kami lelah, semakin dekat kami ke puncak. Kami harus berpikir dari arah terbalik. Itu dia: memutar paradigma!

Pemenang dan pecundang memiliki nasib yang berlawanan. Tapi bertolak belakangnya nasib mereka, berawal dari satu titik, yakni paradigma. Nasib yang berlawanan sebetulnya berawal dari paradigma yang berlawanan. Maka, jika kita ingin menjadi pemenang, aturlah paradigma kita menjadi paradigma pemenang. Terkadang, kita perlu berpikir terbalik dalam waktu singkat dari posisi pecundang yang biasanya memang normal dan wajar, menjadi pemenang yang tidak normal, uncommon, bahkan aneh. Kemenangan kita di dunia nyata bermula dari kemenangan di alam abstrak: kemenangan paradigma.

Usaha kami akhirnya berhasil. Sekitar pukul 20.30 kami sampai di puncak Gunung Pangrango, 3019 mdpl (meter di atas permukaan laut). Tidak lama kami pun mendirikan tenda di lembah mandalawangi, makan malam, dan tidur. Paginya kami ke puncak untuk melihat pemandangan pagi hari yang indah dan ternyata Mandalawangi pun menyajikan pemandangan yang tidak kalah indah.

***

Semua itu menjadi akhir cerita yang indah. Di luar sana kami menikmati pemandangan luar biasa yang membayar lelah kami. Menyaksikan sajian keindahan dari Yang Maha Pencipta. Tapi kami sadar, kenikmatan yang jauh lebih besar ada di dalam diri kami. Jauh di dalam hati kami mengisi jiwa yang telah memenangi pertempurannya. Apa yang kami nikmati dengan indra kami, menjadi berkali-kali lipat nilainya karena jiwa kami merasakan nikmatnya kemenangan.

Kita telah banyak menyaksikan hal serupa terjadi dalam keseharian kita. Ketika segalanya semakin sulit, maka saat tujuan berhasil dicapai rasanya pun akan semakin nikmat. Seperti nikmatnya berbuka puasa yang menjadi berlipat-lipat nilainya karena ia dinikmati bukan hanya oleh indra, tapi juga oleh jiwa yang telah bersabar. Itu baru kenikmatan yang dirasakan di dunia. Belum lagi jika kita mengingat hadits Rasulullah SAW, “Al-ajru ‘alaa qadari masaaqilihim” yang artinya “balasan itu tergantung dari kadar kesulitannya”.

Maka, saudaraku..
Janganlah pernah sedih dengan kesulitan yang kita rasakan. Ketika kita melakukan sesuatu dengan susah payah sedangkan orang lain bisa dengan mudah, jangan pernah merasa payah. Insya Allah, kita akan mendapat balasan dari Allah yang juga lebih besar, berbanding lurus dengan kesulitan yang kita alami.

Saya juga jadi teringat kisah penghuni surga yang selama hidupnya paling menderita. Ketika ditanya bagaimana perasaannya di surga, ia merasa seakan tak pernah sedikit pun menderita selama di dunia. Sebaliknya bagi penghuni neraka yang selama di dunianya hidup paling bahagia, di neraka ia merasa seolah tidak pernah bahagia selama di dunia.

Untuk meraih kenikmatan itu, kita hanya perlu menjalaninya dengan sederhana: melangkah dan terus melangkah. Kita hanya perlu menjalaninya dengan sederhana, namun berharap beakhir dengan sempurna.

Begitulah kita dalam hidup ini. Begitulah kita di jalan ini, saudaraku..

Di akhirnya ada puncak yang kita yakini. Di ujungnya ada akhir yang kita nanti. Di sanalah kita beristirahat. Di sanalah kita boleh berhenti. Di sanalah kita bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa. Saat kita lemah, godaan datang. Saat kita kuat pun cobaan semakin berat. Kita akan punya satu atau bahkan banyak alasan kuat untuk berhenti atau “sekedar” beristirahat. Sekedar lari sejenak dari kerja-kerja melelahkan yang hanya menambah beban hidup kita. Kerja-kerja ini hanya menambah sakit perasaan, menambah pusing pikiran, dan menambah lelah seluruh tubuh kita. Di sini kita belajar lagi tentang makna komitmen, yaitu tetap bertahan menjalankannya tanpa satu alasan pun untuk meninggalkannya. Sekali kita lalai karena suatu alasan, apapun itu, maka komitmen kita layak dipertanyakan.

Tetaplah di sini, saudaraku..
Tetaplah di sini meski gelap masih melingkupi dan masalah muncul silih berganti. Tetaplah berjalan bersamaku, mengingat kembali makna komitmen kita. Mengharap nikmat yang hanya kita rasakan jika kita terus bertahan. Mengharap nikmat yang kan membayar segala lelah perjalanan kita.

Bertahanlah, saudaraku..
karena hanya yang bertahan, yang kan sampai ke tujuan..



Puncak Pangrango, 4 Juli 2009
Belajar Cinta di Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi