Kamis, 26 Agustus 2010

experiental learning #2

ada temen sy yg nulis ttg kejadian ini d blognya. sy repost sebagian potongannya disini.

***

entah kenapa . semenjak bukabareng OSISPK smantigabandung kemarin, kata-kata dislokasi tulang, pulse,nadi dan kata kata kedokteran laiinya menjadi sangat populer di otak saya . iya ini akibat insiden kecil yg menimpa teman kita pilar . aduh kalo diceritain konyolnya gak ketulungan sih . haha jadi biasalah cowok2 suka heboh dan rusuh (lebih hemmyaya nya lagi pas foto) haha entah kenapa bagian ini mengisyaratkan anak2 banci foto sampei ada kejadian kaya gini, tp percayalah emang anak2nya aja ajaib mungkin saking semangatnya atau saking senengnya kmpul bareng jadi aja , pilar ‘kehentak’ dari belakang cukup keras smp tangannya kerasa sangat tidak normal dan cuma bisa rebahan dilantai karna terlalu sakit untuk gerak .

oke, smua calon dokter turun tangan .

nah kita nih para medical engineering totally gabut .

hanya bisa melihat, mendengar, dan merenungkan penyesalan gak jadi dokter! haha konyol .

sebagian menutup telinga setiap kali tangan pilar digerakkan .

beberapa hanya berfoto-foto .

beberapa saling berceritera ttg kehidupan .

sebagian melihat saja,

sebagian lagi tertawa terpingkal-pingkal,

dan 2 dari sisanya (dhita dan wulan) hanya bisa membantu membersihkan makanan yang ada ke dalam perut :D hahahaha

ini buka bersama terchaos yg pernah ada,

tapi skaligus termenakjubkan yg pernah ada , melihat temanteman kamu yang sudah bisa mengaplikasikan ilmu perkuliahannya ke dunia yg sangat nyata dan mencoba menolong teman sendiri .

itu keren bangettttt .

meskipun yg smpet saya rasakan hanya perasaan useless!

atulah masa saya harus menentukan lokasi rumahsakit terdekat lengkap dengan track teralternatif dan titik koordinat rumahsakitnya ?

smua juga tau dari rumah syifa di istana sukajadi paling deket ya rmhsakit hasan sadikin!

hahaha. mungkin belum bisa ya, bukan sekarang :)

senangnyaaaaaaaa kmpul sama manusia-manusia ini.

manusia hebat yg saya yakini akan sangat sukses dengan jalannya masingmasing .

emg ga pernah ada waktu yang cukup buat ngerasa puas sm pertemuan yg ada.

...

***

tulisan aslinya disini

Rabu, 25 Agustus 2010

experiental learning

5 STARS DOCTOR
care provider-decision maker-communicator-community leader-manager


digerakin dikit pasien ngerang2. bapak tuan rumah panik, khawatir, & g yakin mahasiswa kedokteran bisa ambil tindakan tepat. g ada tenaga medis terlatih. ada puluhan org tapi mayoritas g pernah belajar ttg medis.

insiden kecil ngajarin sy lbh dlm ttg pentingnya 5 aspek yg ada di konsep "5 Stars Doctor". bahkan, aspek2 itu jauh lbh penting dr medical science-nya. tentu, bukan berarti medical science ga penting. tapi pengalaman ini, bikin urgensi 5 aspek "5 Stars Doctor" meninggi.

***


• Care-provider: Besides giving individual treatment “five-star doctors” must take into account the total (physical, mental and social) needs of the patient. They must ensure that a full range of treatment - curative, preventive or rehabilitative - will be dispensed in ways that are complementary, integrated and continuous. And they must ensure that the treatment is of the highest quality.
• Decision-maker: In a climate of transparency “five-star doctors” will have to take decisions that can be justified in terms of efficacy and cost. From all the possible ways of treating a given health condition, the one that seems most appropriate in the given situation must be chosen. As regards expenditure, the limited resources available for health must be shared out fairly to the benefit of every individual in the community.
• Communicator: Lifestyle aspects such as a balanced diet, safety measures at work, type of leisure pursuits, respect for the environment and so on all have a determining influence on health. The involvement of the individual in protecting and restoring his or her own health is therefore vital, since exposure to a health risk is largely determined by one’s behaviour. The doctors of tomorrow must be excellent communicators in order to persuade individuals, families and the communities in their charge to adopt healthy lifestyles and become partners in the health effort.
• Community leader: The needs and problems of the whole community - in a suburb or a district - must not be forgotten. By understanding the determinants of health inherent in the physical and social environment and by appreciating the breadth of each problem or health risk “five-star doctors” will not simply be treating individuals who seek help but will also take a positive interest in community health activities which will benefit large numbers of people.
• Manager: To carry out all these functions, it will be essential for “five-star doctors” to acquire managerial skills. This will enable them to initiate exchanges of information in order to make better decisions, and to work within a multidisciplinary team in close association with other partners for health and social development. Both old and new methods of dispensing care will have to be integrated with the totality of health and social services, whether destined for the individual or for the community.

*materi referensi dari dr. Charles Boelen (WHO, Swedia) bisa didownload disini

Minggu, 22 Agustus 2010

leader

Manager do things right
Leader do the right thing

true, not nice

tanri, kamu pernah marah sama orang ga sih?

***


saya mau jadi jenius, tapi ga mau jadi brengsek
***

don't you have heart at all?

Selasa, 17 Agustus 2010

Morning Has Broken

(by Cat Steven a.k.a. Yusuf Islam)

Morning has broken, like the first morning
Blackbird has spoken, like the first bird
Praise for the singing, praise for the morning
Praise for the springing fresh from the word

Sweet the rain's new fall, sunlit from heaven
Like the first dewfall, on the first grass
Praise for the sweetness of the wet garden
Sprung in completeness where his feet pass

Mine is the sunlight, mine is the morning
Born of the one light, Eden saw play
Praise with elation, praise every morning
God's recreation of the new day

Rabu, 11 Agustus 2010

PDW#05 light off

Selama PDW, malem2 ada aturan “light off”. Klo udah masuk waktu light off, ga boleh ada cahaya yang nyala. Lampu, senter, lilin, korek, apapun pokoknya harus mati. Gelap total. Ga boleh ada aktivitas apapun. Semua harus istirahat. Di sinilah PDW juga ngajarin bahwa kita istirahat juga harus total. Tidur juga harus “sungguh2”. Waktu istirahat yang ada harus bener2 dimanfaatin. Saya masih inget kata2 seorang pelatih waktu pra-PDW di Gunung Kareumbi, bahwa di PDW semua hal harus dilakukan dengan sungguh2 & penuh tanggung jawab.

“Di PDW, tidak ada waktu yang boleh berlalu sia-sia. Disini, tidur juga adalah bagian dari latihan karena istirahat kita adalah istirahat yang aktif; istirahat yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab”, kurang lebih gitu katanya (kalimat ini sempet saya jadiin status di facebook).

Waktu light off tiap malem beda2. Bisa dari jam 10, jam 11, atau bahkan di atas jam 12. Itu tergantung waktu terakhir kegiatan. Nah, ternyata saya jadi orang yang kerepotan sama aturan light off ini dari tahap basic sampai sebelum tahap gunung hutan. Soalnya, cuma di tahap gunung hutan waktu malem begitu senggang. Di tahap gunung hutan, acara malem juga bentar. Paling2 cuma evaluasi, jadi waktu yang tersedia dari akhir kegiatan sampe light off ada banyak. Bahkan, saya masih bisa masak dan makan2.

Sebelum gunung hutan, tiap malem saya (kalo bahasa sundanya) "rusuh" alias buru2 (kayaknya ada diksi yang lebih pas tapi apa ya?). Dari akhir kegiatan malem sampai light off kadang cuma sekitar setengah jam. Paling lama sejam. Di waktu yang sempit itu saya mesti ngebongkar isi tas, ganti baju, ngerawat kaki, shalat, dan packing lagi. Kadang malah ditambah aktivitas insidental semisal dipanggil tim medis (soalnya saya udah kena kutu air di kaki –bahkan- dari sebelum PDW :p). Jadi kalo light off saya belum siap tidur, itu biasa. Gara2 itu saya pernah dipush-up 2 seri waktu ketauan sama pelatih. Yang ga enak, pernah saya jadi anggota regu dan akhirnya komandan regunya juga kena push-up.

Suatu kali pernah ada patroli tatib, terus saya lagi masak air panas dan belum shalat. Akhirnya saya langsung shalat ninggalin kompor yang nyala. Saya harap tatibnya ngemaklumin karena saya bukan lagi ngerjain hal2 aneh; saya lagi shalat. Tapi ternyata tatibnya nunggguin dan setelah saya mengucapkan kedua salam, "BLETAKK!!" tangannya melayang ke muka saya :D

Rabu, 04 Agustus 2010

PDW#02 lawang angin (1)

Teman, saya mau cerita tentang PDW dari hal2 yang paling sederhana dulu aja ya. Pertanyaan simpel, “sebulan di gunung tidurnya gimana?” (Biasanya orang2 bilang “sebulan di gunung”, padahal sebenernya PDW kan ga sebulan penuh di gunung). Nah, saya bakal jabarin berbagai macam “rumah” dan “tempat tidur” yang jadi tempat berlindung dan istirahat saya dan siswa2 lainnya selama PDW.

Mungkin, pada ngebayanginnya pake tenda mirip orang2 yang kemping. Kalo ada yang udah tau area situ lembang mungkin ngebayanginnya selama di situ lembang ya tinggal di barak, kenyatannya inilah variasi tempat kami beristirahat.

Pertama.

Long march dari sekre wanadri ke Situ Lembang ternyata ga sebentar. Awalnya saya kira berangkat pagi2 abis shubuh, sore bakalan nyampe tangkubanperahu dan malemnya udah nyampe Situ Lembang. Ternyata rombongan ngumpul di Tangkubanperahu sampe maghrib. Abis maghrib baru bergerak ke Situ Lembang.

Mungkin perpaduan badan cape karena seharian jalan, suasana gelap karena udah malem, dan faktor-faktor lainnya (yang pasti, sangat mungkin ini juga rekayasa panitia), akhirnya kita baru nyampe Situ Lembang sekitar jam 6 pagi.

Nah lho, jadi ga tidur?

Ngga juga. Kita sempet tidur sebentar. Saya lupa persisnya, tapi sekitar jam 3 pagi siswa dikumpulin di bawah pepohonan dan disuruh ngeluarin ponco. Ternyata, malem itu kita dikasih waktu tidur dengan baju basah, badan cape, ransel/carrier tetep dipake, dan ponco nutupin badan. Posisinya duduk nyender ke pohon.

Sekitar jam setengah 5, sebuah ledakan TNT yang langsung disambung teriakan, “bangun, tuan-tuan!” berulang2 menandai akhir dari waktu istirahat kami yang lumayan "berkesan": duduk berponco di bawah pepohonan (^^).

BERSAMBUNG..

Selasa, 03 Agustus 2010

PDW#01 hari-hari pdw


Untuk mempermudah, saya mesti jelasin jadwal PDW dulu dari hari ke hari secara singkat.

3 Juli (H1) upacara pembukaan.
4 (H2) long march sekre wanadri (jln. aceh 155 bandung)- tangkubanperahu-situ lembang.
5-16 (H3-14) basic training @ Situ Lembang, pindah ke pinggir sungai Citarum
17-18 (H15-16) Olah Raga Arus Deras (ORAD) Citarum & Tebing Citatah
19 (H17) recovery
20 (H18) long march rel kereta api Rajamandala-Padalarang, pindah ke Pantura Subang
21-22 (H19-20) Rawa Laut Subang, pindah ke Desa lain di Subang (saya ga tau pasti)
23 (H21) long march jalan raya dari desa di atas ke Desa Cihandjawar Purwakarta.
24 (H22) recovery 2
25-27 (H23-25) gunung hutan: navigasi terbuka, tertutup, ESAR
28-31 (H26-29) gunung hutan: survival, long march situ lembang-tangkubanperahu
1 Agustus (H30) UPACARA PELANTIKAN :D

PDW#00 semacam pembuka


Bismillah. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.

Saya harus bersyukur dengan syukur yang sebenar2nya setelah akhirnya berhasil lulus dari Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) 2010. Pengalaman berharga luar biasa. Sebulan yang sangat bermakna untuk seumur hidup saya (semoga saya ga berlebihan. Seriusan, PDW betul2 bermanfaat). Tapi tetep aja, untuk yang udah pernah ikut PDW pasti bakal bilang, “cukup PDW sekali aja seumur hidup” (^^)

Pengalaman berharga itu pengen saya tulis ke beberapa tulisan pendek. Semoga ada manfaatnya minimal buat saya, lebih bagus lagi klo bisa jadi jawaban untuk temen2 yang pada “nagih” (seriusan banyak yang nagih secara langsung, lewat YM, ataupun FB), bahkan klo bs bermanfaat bwt lbh banyak org lagi ya jelas sy lebih seneng lagi. Smoga diterima jd amal shaleh sama Allah. Sampe sekarang (pas saya nulis bagian pembukanya), udah ada belasan judul yang mau ditulis. Semoga Allah permudah untuk nuntasinnya.

Pertengahan agustus nanti katanya TV One bakal nayangin liputan ttg PDW jadi 2 episode yg totalnya 3 jam. Mungkin klo ada yang mau liat visualnya bisa nonton tayangannya nanti. Kalo saya, mungkin lebih banyak nulis pengalaman pribadi jadi jelas beda sama yang bakal ditayangin TV One nanti.

Okelah, ga usah lama2. Ntar takutnya malah kburu lupa mau nulis apa. Saya langsung tancap aja ke intinya. Bismillah..