Senin, 31 Januari 2011

Fisiologi #1: Alveolus (1)


tentu semuanya udah pada tau sama yang namanya alveolus, yaitu tempat pertukaran udara di dalam paru-paru. nah, ada yang menarik dari alveolus. mereka punya kecenderungan untuk collapse alias mengkerut karena surface tension (tegangan permukaan) yang dia punya. yang bikin dia ngga collapse ada 2 faktor.


pertama, dia ngehasilin surfaktan. surfaktan adalah zat cair yang nahan permukaannya biar ga mengkerut. kalau ada bayi yang lahir prematur, resikonya besar untuk kena masalah pernapasan karena sel-sel alveolusnya belum cukup matang untuk ngehasilin surfaktan yang memadai.

kedua, mekanisme yang disebut interdependensi alveolus. kantung alveolus (alveolar sac) berbentuk kantung bulat kaya balon. nah, mereka berkumpul mirip anggur ngebentuk alveolar duct. jadi kalo suatu kantung alveolus kekurangan surfaktan dan cenderung mengkerut, dia bakal narik kantung alveolus yang lain untuk meregang. nah, karena yang lain juga punya tegangan permukaan (surface tension) yang cenderung narik dia mengkerut ke dalem, jadinya alveolar sac yang ketarik meregang ini bakal cenderung ngejaga bentuknya. hal ini yang bikin dia juga cenderung nahan alveolus yang tadinya udah mau mengkerut karena kurang surfaktan itu ga jadi mengkerut dan bisa tetep terjaga bentuknya.



***

faktor utama keberhasilan kita dalam hal apapun adalah takdir Allah. usaha segimana besar pun, kalo Allah berkehendak lain ga bakal jadi. sebaliknya kalo Allah berkehendak, kita ga berusaha keras (atau ga berusaha bahkan berusaha menghindar pun) bakal tetep terjadi. nah, di sisi lainnya barulah ada area yang jadi domain kita, yaitu usaha (ikhtiar).

ada 2 hal yang berpengaruh besar pada diri kita, yaitu faktor internal diri kita dan lingkungan. sama kaya alveolus yang cenderung collapse, manusia cenderung untuk males, gampang jatuh, dan lemah usaha. sama kaya alveolus juga, faktor yang bisa ngejaga manusia supaya ngga "collapse" adalah "surfaktan" yang dia punya alias daya tahannya sendiri dan orang-orang lain yang ada di sekitarnya yang sama kaya alveolus-alveolus lain yang ngejaga alveolus yang udah mau collapse untuk tetep bertahan.

(bersambung..)

Kamis, 27 Januari 2011

tak ingin ku kembali #2

rasa jenuh terkadang menerpa
hadapi hari seperti biasa
dunia yang s'makin tak bersahabat
ingin kutinggalkan walau sesaat
(Sepohon Rindang, Faliq)

Ya, kalo udah berhadapan sama kondisi yang kedua (ketarik2 untuk 'kembali'), rasanya pengen pergi jauh2 dari dunia. Ngikutin cara tobatnya seorang pembunuh 100 orang yang di kisahnya dianjurin untuk pindah kota oleh sang 'alim. Tapi kalo gitu, jadi ga nerapin sunnah rasul dalam haditsnya:

“Orang mu’min yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mu’min yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka”.

Diperlakukan dengan buruk aja lebih baik bersabar, apalagi cuma jadi ujian konsistensi. Juga, kalo semua yang baik ninggalin wilayah yang ga baik, siapa yang akan memperbaiki manusia? Siapa yang akan jadi muslim sejati: 'shaleh dan menyalehkan'?
Sekali lagi, emang dilematis.

***

Anis Matta menutup tulisannnya dengan mengatakan,

"Maka, para pahlwan mikmin sejati berdiri tegak disana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan: tidak ada kepuasaan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan".

Kita emang perlu ngelatih prinsip sederhana:

"tak lemah karena cacian,
tak bangga karena pujian dan gemuruh tepuk tangan".


Whatever they say, just go straight ahead!

Bukannya ga tau caranya. Bukan juga karena ga bisa. Ga mungkin ga bisa. Cuma, seperti halnya Adam a.s. dulu:

"Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tapi dia lupa dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya". [QS Thaha (20):115]

Ya Allah, teguhkan hati kami dalam agamaMu.
Ya Allah, teguhkan hati kami dalam ketaatan kepadaMu.
Ya Allah, berikan kami kekuatan untuk bertahan,
karena kami tahu..
hanya yang bertahan yang kan sampai ke tujuan.

tak ingin ku kembali #1

izinkan lagu ini temani aku pergi
pergi dan tak kembali
dingin dan sendiri
tak ingin tuk kembali
temuimu lagi
dan ingin kau mengerti ini
(Tak Ingin Ku Kembali, Ambon Tuasikal)

ini lagu bikinan salah seorang sahabat saya, namanya Ambon. okelah ini lagu cinta yang bahkan bernuansa galau karena latar belakang proses pembuatan lagunya emang agak sendu, tapi untuk saya liriknya punya makna tersendiri.

***

seorang pahlawan, menurut Anis Matta, akan harum namanya. tapi menurut beliau, ada tantangan yang menyertai keharuman itu.

"Masyarakat manusia pada umumnya selalu mempunyai dua sikap terhadap keharuman itu. Pertama, mereka biasanya akan mengagumi para pahlawan itu, bahkan terkadang sampai pada tingkat pendewaan. Kedua, mereka akan merasa kasihan kepada para pahlawan tersebut, karena mereka tidak sempat menikmati hidup secara wajar".
(Di Balik Keharumannya, Anis Matta)

"Keluarga para pahlawan seringkali tidak merasakan gaung kebesaran atau semerbak harum nama sang pahlawan. Karena, ia hidup ditengah-tengah mereka, setiap hari, bahkan setiap saat. Bagi mereka, sang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang mempunyai keinginan-keinginan dan kegemaran-kegemaran tertentu seperti mereka. Mereka harus menikmatinya. Maka, merekalah yang sering menggoda sang pahlawan untuk tidak melulu 'mendaki' langit, tetapi juga sekali-kali 'turun' ke bumi".

Begitulah dua bentuk ujian untuk para pahlawan dari orang2 yang ada di dekatnya. Saya rasa, itu bukan cuma untuk orang2 yang udah layak disebut "pahlawan" (yang kesannya adalah orang superspesial luar biasa). Ujian kaya gini juga bisa dihadapi oleh orang2 yang berusaha berbuat baik, atau bahkan baru mulai mau berubah jadi lebih baik. Ujian itu bisa berbentuk dua hal: kekaguman yang berlebihan atau tarikan orang2 kepadanya untuk 'hidup wajar'.

Beberapa paragraf setelahnya, Anis Matta nambahin..

"Kedua sikap itu adalah jebakan. Kekaguman dan pendewaan sering menjebak para pahlawan. Sebab, hal itu akan mempercepat munculnya rasa puas dalam dirinya, sehingga karya yang sebenarnya belum sampai puncak, akhirnya terhenti di pertengahan jalan akibat rasa puas."

"Panggilan turun ke bumi adalah jebakan lain. Menjadi pahlawan memang akan menyebabkan kita meninggalkan sangat banyak kegemaran dan kenikmatan hidup. Bahkan, privasi kita akan sangat terganggu. Namun, itulah pajaknya. Akan tetapi, banyak orang gagal melanjutkan perjalanan menuju puncak kepahlawanan mereka, karena tergoda 'kembali' ke habitat manusia biasa, seperti angin sepoy yang mengirim kantuk kepada orang yang sedang membaca, seperti itulah panggilan turun kebumi menggoda sang pahlawan untuk berhenti mendaki".

***

Nah, itulah ujian tersulitnya. Kadang, kualitas diri dan kerja amal shaleh belum seberapa tapi pujian dan kekaguman udah berlebihan. Ini jadi ujian keikhlasan dan juga sangat beresiko numbuhin kepuasan prematur. Ironis.

Dalam proses perbaikan diri seseorang ada istilah yang biasa disebut 'futur' (bhs Arab) yang bisa diartiin 'kembali'. Yang paling mungkin narik seseorang untuk 'futur' adalah lingkungan terdekatnya. Jebakannya adalah jebakan 'membumi'. Ini dilematis.



(bersambung..)

Sabtu, 01 Januari 2011

2011

seolah jadi siklus.
berputar terus.
melelahkan.
amat sangat melelahkan.
apalagi perputarannya bergulir ke bawah.

2,5 tahun "Rolling Down".
menukik tajam..

mau sampai kapan?
tinggal satu tahun.

2011, "REVIVE & RUN"