Kamis, 26 November 2009

Jalan Pulang

"Yah, tak bisakah kita berhenti dulu? Kakiku lelah sekali".
"Tapi Nak, perjalanan masih jauh. Bahkan masih sangat jauh. Kita harus bergegas agar tidak ketinggalan. Lihat! Sudah banyak orang yang mendahului kita. Mereka juga lelah, namun tetap melangkah. Ayo, kuatkan dirimu! Jangan terlalu lama berhenti di sini.. Jika nanti ada tempat berteduh, Ayah berjanji kita akan beristirahat sejenak".

"Yah, tak bisakah kita melewati jalan lain saja? Jalan pintas, atau jalan yang landai tanpa tanjakan? Jalan yang bisa dilalui tanpa harus bersusah payah?"
"Oh, jalan itu memang ada, Nak. Lihatlah, banyak juga di antara orang-orang itu yang mengambil jalan itu".
"Lantas kenapa kita harus mengambil jalan yang ini, Yah? Mengapa kita tidak ikut mereka saja?"
"Nak, jalan itu bukan jalan yang menuju ke arah yang kita tuju. Bagaimana bisa kita mengikuti orang yang tidak sama tujuannya dengan kita ? Bukan ke sana arah kita pulang. Jalan inilah yang menuju ke arah yang benar. Tempat kita pulang. Dimana rumah kenikmatan telah menanti kita. Di mana kesejukan akan menyapa kita setelah perjalanan yang panjang ini. Percayalah, semua kenikmatan itu akan terasa lebih nikmat bila kita sudah sampai".

"Mereka tampak gembira, Yah. Lihat! Bahkan mereka menertawakan orang-orang yang masih mengambil jalan ini. Mereka mengatai kita bodoh, Yah! Mereka juga mengajak untuk mengambil jalan yang akan mereka ambil. Tak bisakah kita ikut mereka saja?"
"Nak, apa yang tampak baik tidaklah selalu benar-benar baik. Sama dengan yang tampak buruk juga tidak selalu benar-benar buruk. Bisa jadi kita tidak menyukai sesuatu, padahal itulah yang terbaik bagi kita. Bisa jadi kita menyukai sesuatu yang justru buruk bagi kita".
"Tapi, Yah.."
"Nak, jangan takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. Mereka tidak lebih mengerti segala sesuatu tentang diri kita, tentang jalan pulang kita. Tentang rumah kita. Mereka memilih jalan yang mereka anggap baik, maka biarkanlah mereka. Mereka memilih jalan tempat mereka akan pulang, bukan tempat kita pulang. Sedangkan kita, kita memiliki tujuan. Memiliki rumah tempat kita akan pulang sendiri. Teguhkanlah dirimu di jalan ini. Karena jalan inilah yang kita butuhkan".

"Hmm, Yah, apakah ini perasaanku saja?
Tampaknya jumlah orang yang melalui jalan ini semakin menyusut".
"Memang demikianlah fitrah jalan ini. Orang yang melaluinya bisa dengan mudah berkurang dan berkurang. Hanya yang beruntung dan bersungguh-sungguh yang akan bertahan. Lihat, ada pohon rindang! Mari kita beristirahat sejenak.."

***

Saudaraku, tulisan ini hanya sedikit usaha dari seorang saudaramu yang mulai merasa lelah berjalan sendirian. Berjalan bersama sedikit orang itu melelahkan, meski jadi minoritas itu menyenangkan.

Terbayang indahnya berjuang bersama di jalan kemuliaan. Meski harus melewati berbagai cobaan, semuanya dilalui bersama. Saling menasehati dalam kesabaran dan kebenaran. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.

Saudaraku, orang-orang pilihan adalah yang mampu menerima amanah sebesar dan seberat apapun. Adalah yang selalu merendah hati, yang selalu berusaha meluruskan kesalahan, juga tak marah kala diingatkan. Adalah yang sanggup membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar orang yang dipilih dengan tidak sembarangan.
Orang-orang pilihan adalah yang tidak pernah mengeluhkan jauhnya perjalanan, beratnya permasalahan, dan tak cepat putus asa ketika menghadapi rintangan dan ancaman.

Kemenangan da’wah adalah janji ALLAH dan janji ALLAH itu pasti. Siapa yang berada di dalamnya adalah orang yang beruntung karena akan diberi karunia-Nya.

”Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada ALLAH dan mengerjakan kebaikan dan berkata, ”Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”?
Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” [QS.41:33-35]

171106
(dikutip dari tulisan seorang kakak dengan beberapa perubahan)

waktu lagi mau nyari materi buat buletin pembinaan AsySyifaa (BunBin),

ketemu tulisan ini. tulisan yang dulu saya sebarin ke temen2 furqaners08.
di bunbin, kisah ini saya tutup pake potongan tulisan saya yang
"Belajar Cinta di Lembah Kasih"

Rindu..

kawan,
pernahkah kau merasakan nikmatnya totalitas?

saat tubuhmu hampir tak bisa bangun lagi saking lelahnya,
saat kepalamu sakit sekali saking penatnya,
saat matamu basah, terus membasah tak pernah kering..

aku pernah..
tapi dulu..
sudah lama sekali

dan kini, aku merindukannya..
betul-betul merindukannya..

021109

ini tulisan lama.. atau anggaplah begitu.
karena kini
rasa itu sedang kubangun kembali .
bahkan dengan kisah yang dulu belum tuntas kuurai.
bahkan dengan karya yang dulu belum tuntas kurangkai.
insya Allah.. semoga Allah kuatkan..

Quthb berbicara padaku

Kata-kata itu bisa mati..
Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis dengan lirik yang indah atau semangat.
Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul dari hati orang yang kuat meyakini apa yang dikatakannya..

Dan seseorang mustahil memiliki keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannya, kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan dalam dirinya sendiri, lalu menjadi visualisasi nyata atas apa yang ia katakan

(serasa Sayyid Quthb sedang berbicara padaku)
021109


Rabu, 25 November 2009

Allah, jadikan aku..

ya Allah,
jadikan aku hamba yang paling buruk amalnya di hadapanku,
menjadi hamba yang biasa saja amalnya di hadapan orang lain,
menjadi yang paling baik amalnya di hadapanMu,
dan jadikan aku legenda setelah aku mati..

seperti do'a Ibrahim 'alayhissalaam..






83. (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,
84. dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.." [QS. 26]

Rabu, 18 November 2009

Makan-minum sambil duduk, yuk..

Hadits-Hadits yang melarang minum sambil berdiri

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri (HR. Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775 dll).
Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri (HR. Muslim no. 2025, dll).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)

Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya minum sambil berdiri

Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan,
“Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.”
(HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)
Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan,
“Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR. Bukhari no. 5615)
Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan,
“Apa yang kalian
lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” (HR Ahmad no 797)
Dari Ibnu Umar beliau mengatakan,
“Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.” (HR. Ahmad no 4587 dan Ibnu Majah no. 3301 serta dishahihkan oleh al-Albany)

Di samping itu Aisyah dan Said bin Abi Waqqash juga memperbolehkan minum sambil berdiri, diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubaer bahwa beliau berdua minum sambil berdiri (lihat al-Muwatha, 1720 - 1722).

Mengenai hadits-hadits di atas ada Ulama yang berkesimpulan bahwa minum sambil berdiri itu diperbolehkan meskipun yang lebih baik adalah minum sambil duduk. Di antara mereka adalah Imam Nawawi, dalam Riyadhus Shalihin beliau mengatakan, “Bab penjelasan tentang bolehnya minum sambil berdiri dan penjelasan tentang yang lebih sempurna dan lebih utama adalah minum sambil duduk.”


Pendapat Imam Nawawi ini diamini oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin, beliau mengatakan, “Yang lebih utama saat makan dan minum adalah sambil duduk karena hal ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak makan sambil berdiri demikian juga tidak minum sambil berdiri.
Mengenai minum sambil berdiri terdapat hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan tersebut. Anas bin Malik ditanya tentang bagaimana kalau makan sambil berdiri, maka beliau mengatakan, “Itu lebih jelek dan lebih kotor.” Maksudnya jika Nabi melarang minum sambil berdiri maka lebih-lebih lagi makan sambil berdiri.

Dalam hadits dari Ibnu Umar yang diriwayatkan dan dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Umar mengatakan, “Di masa Nabi kami makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri. Hadits ini menunjukkan bahwa larangan minum sambil berdiri itu tidaklah haram akan tetapi melakukan hal yang kurang utama. Dengan kata lain yang lebih baik dan lebih sempurna adalah makan dan minum sambil duduk. Namun boleh makan dan minum sambil berdiri. Dalil tentang bolehnya minum sambil berdiri adalah dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Nabi lalu beliau meminumnya sambil berdiri.” (Syarah Riyadhus Shalihin, Jilid VII hal 267)


Namun, komentar yang paling bagus mengenai hadits-hadits diatas yang secara sekilas
nampak bertentangan adalah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau mengatakan,
“Cara mengompromikan hadits-hadits di atas adalah dengan memahami hadits-hadits yang
membolehkan minum sambil berdiri apabila dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk minum sambil duduk. Hadits-hadits yang melarang minum sambil duduk di antaranya adalah hadits yang menyatakan bahwa Nabi minum sambil berdiri.” (HR Muslim 2024)

Juga terdapat hadits dari Qotadah dari Anas, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. Qotadah lantas bertanya kepada Anas, “Bagaimana dengan makan sambil berdiri?” “Itu lebih jelek dan lebih kotor” kata Anas. (HR. Muslim no. 2024)

Sedangkan hadits-hadits yang membolehkan minum sambil berdiri adalah semisal hadits dari Ali dan Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum air zam-zam sambil berdiri”.(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Bukhari dari Ali, sesungguhnya beliau minum sambil berdiri di depan pintu gerbang Kuffah. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang aku lakukan.” Hadits dari Ali ini diriwayatkan dalam atsar yang lain bahwa yang beliau minum adalah air zam-zam sebagaimana dalam hadits dari Ibnu Abbas. Jadi, Nabi minum air zam-zam sambil berdiri adalah pada saat berhaji. Pada saat itu banyak orang yang thawaf dan minum air zam-zam di samping banyak juga yang minta diambilkan air zam-zam, ditambah lagi di tempat tersebut tidak ada tempat duduk. Jika demikian, maka kejadian ini adalah beberapa saat sebelum wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, hadits ini dan hadits semacamnya merupakan pengecualian dari larangan di atas. Hal ini adalah bagian dari penerapan kaidah syariat yang menyatakan bahwa hal yang terlarang, itu menjadi dibolehkan pada saat dibutuhkan. Bahkan ada larangan yang lebih keras daripada larangan ini namun diperbolehkan saat dibutuhkan, lebih dari itu hal-hal yang diharamkan untuk dimakan dan diminum seperti bangkai dan darah menjadi diperbolehkan dalam kondisi terpaksa” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah Jilid 32/209-210)


Sumber : Tulisan Ustadz Aris Munandar, www.muslim.or.id

***

saya ambil dari internet (ini linknya) supaya cepet, trus sy ringkas & perbaiki tampilannya. semoga mashlahat. billahi taufiq wal hidayah..

Sabtu, 14 November 2009

Ikhwan apa Bakwan?!

Mulai skrg, sy bikin label "bajakan" untuk tulisan orang lain yang buat saya isinya sangat "nampol". Semoga bisa lebih ngeramein blog ini^^. Soalnya kalo cuma ngandelin tulisan saya sendiri, trus saya ga nyempetin nulis, ya udah.. sing krik krik jadinya.

***

SEBUAH RENUNGAN UNTUK YANG MENGATAKAN
SEDANG BERJUANG (JUST KIDDING)

ikhwan apa bakwan
wajah penuh jerawat seperti thokolan
katanya karena mikirin ummat yang jutaan
tidak tahunya mikirin akhwat idaman

ikhwan apa bakwan
dari jauh nampak sopan
berjalan gagah pengen jaga pandangan
ternyata mata juga jelalatan

ikhwan apa bakwan
kalo taklim serius tahan godaan
liat ustad penuh perhatian
tapi sama akhwat kelepek-kelepek belingsatan

ikhwan apa bakwan
wajah santun jenggotan
pengen nyunah rosul tauladan
apa daya cuman bergaya biar terlihat tampan...


PENGEN NGINGETIN AZA WAN!

ada apa dengan ikhwan
mau nikah malah kelamaan
akhwatnya sudah menanti ampe jamuran (ups)
tapi tuh ikhwan gak juga khitbah akhwat idaman

ada apa dengan ikhwan
mau nikah mikirnye kelamaan
mikir makan, anak dan kontrakan
tenang Wan ente kan punya Allah yang bisa kasih bantuan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak aturan
harus cantik, putih, kaya dan menawan
inget dong apa yang rosul telah katakan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak alasan
gaji, kuliah, sampe ortu jadi sasaran
kasihan kan akhwat yang cantik nunggu kelamaaan

ada apa dengan ikhwan
baca beginian sampe marah dan menaruh dendam
peace Wan, peace Wan
cuman mengingatkan Wan(nyok makan Bakwan)..hehe


IKHWAN : APA HANYA SEBUTAN

oh.. ikhwan
apa bedanya dengan si marwan
si ali, palijo, atau si iwan
oh ternyata cuma sebutan

oh.. ikhwan
walaupun tidak rupawan
alias modal tampang pas-pasan
tetep aja tebar senyuman

oh.. ikhawan
gayanya sih bisa ketebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko, dan sendal jepit usang
sesekali komat-kamit sambil jalan

oh.. ikhwan
nyarinya susah-susah gampang
kadang di mesjid, kampus or sekolahan
mungkin juga lagi nyari sampingan
ngga taunya buat biaya walimahan :)

oh.. ikhwan
ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
juga liqo'an dan hafalan
kata orang "ngga ada bahasan lain, Wan?"

oh.. ikhwan
anehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, Wan?
oh.... ternyata dia lagi jaga pandangan !!!

ikhwan.. ikhwan..
lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir!, acuh tak acuh kaya' musuhan
(gubrak!!! apaan tuh Wan?)
eh... dia jatuh,kagak ngeliat selokan :))

oh.. ikhwan, apa semuanya begitu, Wan?
ada ngga yang masih tebar pesona dan jelalatan?
berarti itu bukan ikhwan, (kan cuma sebutan?!!)
nah para akhwat,hati-hati mungkin dia nyari pasangan...

-the end-

semoga bisa menjadi bahan perenungan, bahwa 'ikhwan' dan
'aktivis' bukan hanya sekedar sebutan saja, melainkan sesuatu yang memiliki konsekwensi besar
yang harus dilaksanakan layaknya seorang ikhwan...

wallahu'alam