Senin, 12 Oktober 2009

Harapan terakhir..

Rabbanaa taqabbal minnaa shiyaamanaa..
Rabbanaa taqabbal minnaa qiyaamanaa..
Rabbanaa taqabbal minnaa rukuu’anaa..
Rabbanaa taqabbal minnaa sujuudanaa..
Rabbanaa taqabbal minnaa tilaawatanaa..

Tilawah ga sampai khatam 3x,
Dzikir Al Ma’tsurat ga rutin setiap hari,
Qiyaamullail sering ga terhayati,
Tafsir Ibnu Katsir juz 30 versi ringkas pun ga tuntas dikhatami

Di atas sederet target ramadhan yang ga tercapai,
aku cuma berharap amal ibadah yang sudah kulakukan kau terima, ya Allah..

Tilawah yang sedikit.
Dzikir yang jarang.
QL yang hambar.
Tadabbur yang singkat.

Semoga semua itu kau terima, mengantarku ke tingkatan taqwa, dan menjadi bekalku ke surga..
Mari kita haturkan doa ini hingga ramadhan tahun depan mendekat.

Rabbanaa taqabbal minnaa shiyaamanaa..
Wa taqabbal minnaa qiyaamanaa..wa shalaatanaa.. wa rukuu’anaa..wa sujuudanaa..wa tilaawatanaa. .wa du’aa-anaa..
Wa laa taj’alnaa minal maqbuuhiin.. Wa laa taj’alnaa minal matruudiin..

RS Sari Asih Serang, 6 Syawal 1430 H

Minggu, 04 Oktober 2009

ketiduran

Umar bin Khattab ra. pernah keasyikan mengurus kebunnya sampai terlambat ikut sholat ashar berjamaah. Karena kejadian ini, Khalifah Umar memutuskan untuk mewakafkan kebun yang melalaikan dirinya.

LALU APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH SESEORANG YANG TIDAK SHALAT SHUBUH BERJAMAAH DI MASJID KARENA TERTIDUR AKIBAT MAIN GAME SAMPAI LARUT MALAM?


Sabtu, 03 Oktober 2009

kayak bukan laki-laki aja..

sejak baca hadits2 ini, sampe sekarang saya punya anggapan gini..

klo ada laki2 yg ga suka pergi ke masjid, mestinya ditegur keras dgn bilang gini:
"kayak bukan laki2 aja!!"

tapi yg pasti, teguran itu ga sekeras hadits2 di bawah ini, apalagi kalo dibandingin murkanya Allah.. masya Allah..
semoga kita jadi bagian dari orang2 yang diterima Allah di surgaNya

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan RUKULAH BERSAMA ORANG-ORANG YANG RUKU” [Al-Baqarah : 43]

Berkata Al-Imam Abu Bakr Al-Kasaniy Al-Hanafiy ketika menjelaskan wajibnya melaksanakan shalat berjama’ah: "Adapun (dalil) dari Al-Kitab adalah firman-Nya (yanga artinya): “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah:43), Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, yang demikian itu dengan bergabung dalam ruku’ maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah. Muthlaqnya perintah menunjukkan wajibnya mengamalkannya." (Bada`i’ush-shana`i’ fi Tartibisy-Syara`i’ 1/155 dan Kitabush-Shalah hal.66).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut”

[Al-Bukhari, kitab Al-Khusumat 2420, Muslim, kitab Al-Masajid 651]

Dari Abdullah bin Mas’ud (رضي الله عنهما), ia berkata:

“Aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya atau orang sakit. Bahkan yang sakit pun ada yang dipapah dengan diapit oleh dua orang agar bisa ikut shalat (berjama’ah)”. Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sunanul huda, dan sesungguhnya di antara sunanul huda itu adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan”

[Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 654]

Al-Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata:

“Rasulullah memerintahkan kami, apabila kalian di masjid lalu diseru shalat (dikumandangkan adzan-pent) maka janganlah keluar salah seorang di antara kalian sampai dia shalat (di masjid secara berjama’ah-pent)

(Al-Fathur-Rabbani Li Tartib Musnad Al-Imam Ahmad no. 297, 3/43).

“Barangsiapa yang ingin bertemu Allah kelak sebagai seorang Muslim, maka hendaklah ia memelihara shalat-shalat yang diserukan itu, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda, dan sesungguhnya shalat-shalat tersebut termasuk sunanul huda. Jika kalian shalat di rumah kalian seperti shalatnya penyimpang ini di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Tidaklah seorang bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian berangkat ke suatu masjid di antara masjid-masjid ini, kecuali Allah akan menuliskan baginya satu derajat serta dengannya pula dihapuskan darinya satu kesalahan. Sungguh aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya, dan sungguh seseorang pernah dipapah dengan diapit oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf (shalat)

[Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 257, 654]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ( رضي الله عنه‎ ), bahwa seorang LAKI-LAKI BUTA berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya keringanan untuk shalat di rumahku?” Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya,“Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat?” ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah”

[Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengomentari hadits diatas:

“Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya, namun demikian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tetap memerintahkannya untuk shalat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maka yang wajib atas seorang Muslim adalah bersegera melaksanakan shalat pada waktunya dengan berjama’ah. Tapi jika tempat tinggalnya jauh dari masjid sehingga tidak mendengar adzan, maka tidak mengapa melaksanakannya di rumahnya. Kendati demikian, jika ia mau sedikit bersusah payah dan bersabar, lalu shalat berjama’ah di masjid, maka itu lebih baik dan lebih utama baginya.”

[Syaikh Ibnu Baz, Fatawa ’Ajilah Limansubi Ash-Shihhah, hal.41-42]

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”.[Hadits Riwayat Ibnu Majah 793, Ad-Daru Quthni 1/421,422, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246]

Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, ‘Apa yang dimaksud dengan udzur tersebut?’ ia menjawab, ’Rasa takut (tidak aman) dan sakit".

Dari dalil-dalil yang menunjukkan atas wajibnya shalat berjama’ah adalah apa yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dari jeleknya akibat orang yang tidak memenuhi/menjawab panggilan untuk sujud. Allah berfirman (yanga artinya): “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud maka mereka tidak mampu (untuk sujud). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (Al-Qalam:42-43).

Yang dimaksud dengan “seruan untuk sujud” adalah seruan untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Berkata Turjumanul Qur`an ‘Abdullah bin ‘Abbas dalam menafsirkan ayat ini: “Mereka mendengar adzan dan panggilan untuk shalat tetapi mereka tidak menjawabnya” (Ruhul Ma’ani 29/36).

Dan sungguh tidak hanya seorang dari salafnya ummat ini yang menguatkan tafsiran ini, atas dasar inilah berkata Ka’ab Al-Ahbar: “Demi Allah tidaklah ayat ini diturunkan kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi dari (shalat) berjama’ah.” (Tafsir Al-Baghawiy 4/283, Zadul Masir 8/342 dan Tafsir Al-Qurthubiy 18/251).

Telah Berkata Sa’id bin Jubair: “Mereka mendengar (panggilan) ‘Hayya ‘alal falaah’ tetapi tidak memenuhi panggilan tersebut.” (Tafsir Al-Qurthubiy 18/151 dan Ruhul Ma’ani 29/36).

Berkata Ibrahim An-Nakha’iy: “Yaitu mereka diseru dengan adzan dan iqamah tetapi mereka enggan (memenuhi seruan tersebut).” (Ibid).

Berkata Ibrahim At-Taimiy: “Yakni (mereka diseru) kepada shalat yang wajib dengan adzan dan iqamah.” (Tafsir Al-Baghawiy 4/283).

Dan sejumlah ahli tafsir telah menjelaskan juga bahwasanya dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah. Atas dasar/jalan ini berkata Al-Hafizh Ibnul Jauziy: “Dan dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah.” (Zadul Masir 8/342).

Berkata Al-Imam Fakhrurraziy (tentang ayat): “Dan sungguh mereka pada waktu di dunia telah diseru untuk sujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera.” (Al-Qalam:43), yakni ketika mereka diseru kepada shalat-shalat (yang wajib) dengan adzan dan iqamah sedang mereka dalam keadaan sejahtera, mampu untuk melaksanakan shalat. Dalam ayat ini terdapat ancaman terhadap orang yang duduk (tidak menghadiri) dari shalat berjama’ah dan tidak memenuhi panggilan mu`adzdzin sampai ditegakkannya iqamah shalat berjama’ah." (At-Tafsirul-Kabir 30/96).

Dan berkata Al-Imam Ibnul Qayyim: "Dan telah berkata lebih dari satu dari salafush shalih tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh mereka pada waktu di dunia telah diseru untuk sujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera.” (Al-Qalam:43), yaitu ucapan mu`adzdzin: “hayya ‘alash-shalaah hayya ‘alal-falaah”.

Dan ini merupakan dalil yang dibangun di atas dua perkara:

Yang pertama: bahwasanya memenuhi panggilan itu adalah wajib
Yang kedua: tidak bisa memenuhi panggilan tersebut kecuali dengan hadir dalam shalat berjama’ah.

Hal tersebut di atas (kewajiban shalat berjama’ah di masjid-pent) adalah yang telah difahami oleh golongan yang paling ‘alim dari ummat ini dan yang paling fahamnya yaitu dari kalangan para shahabat radhiyallahu ‘anhum. (Ibnul Qayyim, Kitabush shalah hal. 65).

Dan yang menguatkan akan wajibnya shalat berjama’ah juga adalah apa yang telah disebutkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas dari jeleknya akibat orang yang meninggalkannya. Sungguh Al-Imam Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Telah berselisih atasnya seorang laki-laki yang berpuasa sepanjang siang dan shalat sepanjang malam tapi tidak menghadiri shalat jum’at dan tidak pula shalat berjama’ah, maka ia berkata: “Dia di neraka.” (Al-Mushannaf 1/346 dan Jami’ut-Tirmidzi 1/188 dicetak dengan Tuhfatul Ahwadzi).

Maka perhatikan ucapan dari Ibrahim bin Yazid At-Taimiy, ia berkata: “Apabila Engkau melihat/mendapatkan orang yang mengenteng-entengkan (bermudah-mudahan) dalam masalah takbiratul ihram, maka bersihkanlah badanmu darinya.” (Siyar A’lamin Nubala` 5/62, lihat Dharuratul Ihtimam hal. 83).

Dari ucapan beliau ini, terdapat isyarat agar kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan takbiratul ihram dalam shalat berjama’ah. Maka seyogyanya bagi kita untuk memperhatikan aktivitasnya masing-masing. Hendaklah ketika keluar atau bepergian melihat waktu shalat. Ketika waktu adzan dikumandangkan sebentar lagi sekitar 5 atau 10 menit maka kita selayaknya memperhatikannya, apakah keluarnya kita bisa mengejar untuk mendapatkan takbiratul ihram atau tidak? Jika tidak, lebih baik kita menunggu sampai kita selesai melaksanakan shalat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Sunnah Rasulullah, mengamalkannya, menjaganya dengan sebaik-baiknya dan membelanya dari para penentangnya. Amin.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam
Subhanakallohuma wabihamdika, asyhadu al-laa ilaha illaa ant, astagfiruka wa atubu ilaik

Maraji’:

1. http://www.mail-archive.com/keluarga-islam@yahoogroups.com/msg10849.html
2. http://www.almanhaj.or.id/category/view/19/page/6
3. http://ghuroba.blogsome.com/2007/06/24/wajibnya-sholat-berjamaah-di-masjid/

(saya ambil dari http://apps.facebook.com/blog-box/posts/33975)

Jumat, 02 Oktober 2009

Belajar Bijak #1: Antara Makna Dan Konsep


1+1=2
makna menentukan konsep
salah memaknai akan salah mengonsep
salah mengonsep akan salah mempraktekkan

1+1=2
makna menentukan konsep
penguasaan makna modal penguasaan konsep
menguasai makna dengan luas dan pasti modal menguasai konsep dengan luas dan pasti

1+1=2
makna menentukan konsep
lain cara memaknai, lain pula cara mengonsep
lain dalam pemaknaan, akan lain dalam pengonsepan

1+1=2
makna menentukan konsep
pahami maknanya, kau akan tepat membuat konsepnya