Seorang guru bimbel saya sangat semangat promosi ITB. Kalimat pamungkasnya, “kamu boleh kuliah jurusan apa aja, asal di ITB”. Waktu saya tanya alasannya, guru saya itu ngejawab, “karena, ITB itu tempat pembelajaran yang ga terbatas. Batasnya tergantung kita sendiri. Kita sendiri yang nentuin batas pembelajaran kita. Banyak orang yang berubah banget di ITB. Ada yang jadi keren banget. Ada juga yang berubah jadi ancur banget”.
Orang-orang yang denger itu kadang bingung, kadang senyum-senyum. Saya termasuk yang senyum-senyum. Alasannya dua. Pertama, karena tebakan saya bener. Saya udah ngira alasannya itu. Yang kedua, karena ada fakta lain yang saya tau.
Saya yakin ‘pembelajaran’ yang dimaksud guru saya itu, bukan berarti proses belajar mengajar atau perkuliahan yang cuma berbau akademis. Tapi lebih dari itu, ‘pembelajaran’ di sini maksudnya ‘proses membekali diri untuk jadi manusia yang lebih baik dan menjalani kehidupan nyata ketika dewasa nanti’. Begitulah kira-kira. Dan kalau ITB disebut ‘tempat pembelajaran tanpa batas’, saya bersyukur pernah sekolah di sma 3. Karena saya rasa sma 3 juga layak dapet predikat itu: tempat pembelajaran tanpa batas. Keren banget kan sebutannya? ^^
Kualitas diri, ibarat entalpi. Saya ga tau berapa nilainya. Saya ga tau saya orang hebat atau orang yang ga ada apa-apanya. Tapi, saya bisa ngerasain ‘delta’-nya. Entah di mana titik awal saya dan di mana titik akhirnya, tapi saya bisa tahu nilai perubahannya. Seberapa besar perubahan yang terjadi sama diri saya. Berapa banyak hal yang udah berubah dari dalam diri saya.
Coba inget prinsip pembelajaran. Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Artinya, semakin besar ‘delta kualitas diri’ kita, semakin beruntung kita. Semakin kecil ato malah minus, semakin rugi kita. Karena kalau minus, artinya ‘nilai hasil reaksi lebih kecil dari sebelum reaksi’.
Atas dasar itu, saya ngerasa jadi orang yang sangat beruntung karena nilai ‘delta’ saya sangat besar. Entah kalo yang dibandingin adalah ‘nilai kualitas’-nya, tapi ini soal ‘delta’. Tentang perubahan. Selama di sma 3, saya belajar banyak hal. Belajar ‘seharusnya gini’. Belajar ‘gini caranya’. Belajar ‘jangan gitu’, dan belajar-belajar yang lain. Ada yang bentuknya hard skill, soft skill, atau bahkan cuma perubahan cara pandang terhadap sesuatu. Di sma 3, bisa kenal temen-temen yang hebat. Saya banyak belajar dari kehebatan orang-orang sekitar saya. Sengaja ataupun nggak, saya terpengaruh sama orang-orang yang luar biasa.
Kini tanpa terasa saya hampir sampai pada akhirnya. Akhir masa pembelajaran sebagai siswa sma 3. Waktu yang sekitar tiga tahun ini rasanya sangat bermakna. Syukur pada Allah Yang Mahakuasa yang dengan izinNya saya dikasi kesempatan sekolah di sma 3. Apalagi kalo inget jalan saya masuk ke sma 3 yang ga biasa.
Untuk itu, bersyukurlah, kawan.. Karena kita pernah sekolah di sini. Dengan segala kekurangannya, sekolah ini udah ngasi kita banyak hal. Kalau ada yang ga ngerasain hal yang sama kaya saya, maka saya saranin, kelak di tempat lain jalanilah kehidupan yang penuh pembelajaran. Dengannya, diri kita akan memiliki nilai perubahan yang besar. Dan kita akan menjadi orang yang beruntung. Mungkin paling beruntung..
Orang-orang yang denger itu kadang bingung, kadang senyum-senyum. Saya termasuk yang senyum-senyum. Alasannya dua. Pertama, karena tebakan saya bener. Saya udah ngira alasannya itu. Yang kedua, karena ada fakta lain yang saya tau.
Saya yakin ‘pembelajaran’ yang dimaksud guru saya itu, bukan berarti proses belajar mengajar atau perkuliahan yang cuma berbau akademis. Tapi lebih dari itu, ‘pembelajaran’ di sini maksudnya ‘proses membekali diri untuk jadi manusia yang lebih baik dan menjalani kehidupan nyata ketika dewasa nanti’. Begitulah kira-kira. Dan kalau ITB disebut ‘tempat pembelajaran tanpa batas’, saya bersyukur pernah sekolah di sma 3. Karena saya rasa sma 3 juga layak dapet predikat itu: tempat pembelajaran tanpa batas. Keren banget kan sebutannya? ^^
Kualitas diri, ibarat entalpi. Saya ga tau berapa nilainya. Saya ga tau saya orang hebat atau orang yang ga ada apa-apanya. Tapi, saya bisa ngerasain ‘delta’-nya. Entah di mana titik awal saya dan di mana titik akhirnya, tapi saya bisa tahu nilai perubahannya. Seberapa besar perubahan yang terjadi sama diri saya. Berapa banyak hal yang udah berubah dari dalam diri saya.
Coba inget prinsip pembelajaran. Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Artinya, semakin besar ‘delta kualitas diri’ kita, semakin beruntung kita. Semakin kecil ato malah minus, semakin rugi kita. Karena kalau minus, artinya ‘nilai hasil reaksi lebih kecil dari sebelum reaksi’.
Atas dasar itu, saya ngerasa jadi orang yang sangat beruntung karena nilai ‘delta’ saya sangat besar. Entah kalo yang dibandingin adalah ‘nilai kualitas’-nya, tapi ini soal ‘delta’. Tentang perubahan. Selama di sma 3, saya belajar banyak hal. Belajar ‘seharusnya gini’. Belajar ‘gini caranya’. Belajar ‘jangan gitu’, dan belajar-belajar yang lain. Ada yang bentuknya hard skill, soft skill, atau bahkan cuma perubahan cara pandang terhadap sesuatu. Di sma 3, bisa kenal temen-temen yang hebat. Saya banyak belajar dari kehebatan orang-orang sekitar saya. Sengaja ataupun nggak, saya terpengaruh sama orang-orang yang luar biasa.
Kini tanpa terasa saya hampir sampai pada akhirnya. Akhir masa pembelajaran sebagai siswa sma 3. Waktu yang sekitar tiga tahun ini rasanya sangat bermakna. Syukur pada Allah Yang Mahakuasa yang dengan izinNya saya dikasi kesempatan sekolah di sma 3. Apalagi kalo inget jalan saya masuk ke sma 3 yang ga biasa.
Untuk itu, bersyukurlah, kawan.. Karena kita pernah sekolah di sini. Dengan segala kekurangannya, sekolah ini udah ngasi kita banyak hal. Kalau ada yang ga ngerasain hal yang sama kaya saya, maka saya saranin, kelak di tempat lain jalanilah kehidupan yang penuh pembelajaran. Dengannya, diri kita akan memiliki nilai perubahan yang besar. Dan kita akan menjadi orang yang beruntung. Mungkin paling beruntung..
ditulis untuk buletin Nasi Oedoek (MD-AF'08)
bismillah..
BalasHapuskok sepi komentar ya?
padahal g sepi pengunjung..
apa ada yg salah dari webnya ya..?
cik, ah.. tes tes..
subhanallah.. bacaan yg betul2 mengguggah smangat.. smoga kt smw bs trs mnaikkan "delta" kualitas diri ini dmnpun kt brada krn ssungguhnya kitalah penggerak. bukan mereka. bukan pula waktu. jzk.
BalasHapushmmmmmmm
BalasHapustulisan yg bagus tan
mgkn mmg delta tersebut harus selalu ditingkatkan dengan "concern" terhadap apa yg ada di sekitar kita
thanks udah menyajikan tulisan yg bermakna
klo bisa( dan harus bisa) saya akan byk belajar di ITB bukan hny bidang akademis saja tapi juga EQ- ku yg masih jauh dari cukup
yup (^_^)
Hmm..
BalasHapusKomenku jauh skali jaraknya..
Anak ITB bilang, "ITB tempat pembelajaran yang tak terbatas"..
Anak SMAN 3 ngerasa di SMA 3 juga itu bisa dicapai..
Orang2 yang baca juga jadi inget sama lingkungannya, dan menyadari kesamaan : "alhamdulillah, lingkungan saya juga tempat pembelajaran yang tak terbatas"
Ternyata, pembelajaran yang tak terbatas tidak hanya milik sesuatu, milik beberapa..
Hidup ini, setiap detiknya, dimanapun, bagi siapapun, adalah pembelajaran tanpa batas..
Engga peduli anak ITB, Harvard, pengamen, bobotoh Persib tukang gelut, semuanya mengalami pembelajaran yang tak terbatas dalam hidupnya masing2..
Yang membedakan apa yang diperoleh dari pembelajaran tak terbatas itu, paling tidak, adalah pada seperti apa visi kita tentang hidup??
Seberapa pandai kita memaknai hidup??