Orasi Penerimaan Mahasiswa
Baru
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamualaikum
Warahmatullah Wabarakaatuh.
Teman-teman
mahasiswa, selamat datang di dunia baru!
Di dunia kampus, kita
akan menemukan pilihan-pilihan. Setiap pilihan menentukan konsekuensi yang akan
kita dapatkan. Mari kita memulainya dari akhir karena pilihan mendasar yang
kita hadapi di kampus ini adalah pilihan: ‘mau jadi apa kita di akhir nanti
setelah lulus dari kampus ini?’.
Kalau kita ada di
kampus ini hanya dalam rangka mengejar gelar untuk mencari pekerjaan, jangan heran
jika pada akhirnya kita hanya akan menjadi pekerja-pekerja atau buruh-buruh
bergelar sarjana. Kita tidak akan menjadi bagian dari perbaikan dan kebangkitan
bangsa ini. Padahal bangsa ini memiliki potensi luar biasa. Negeri ini sejak
dulu hingga kini terus menjadi sorotan dunia, karena negeri ini cuma kekurangan
satu faktor saja untuk bisa menjadi negeri yang jaya, yakni faktor sumber daya
manusia yang bermoral dan berkualitas.
Ingatlah bahwa
sumber daya manusia terpenting dari sebuah bangsa adalah pemuda, terutama
pemuda-pemuda minoritas yang mendapat anugerah untuk belajar sampai perguruan
tinggi yang disebut mahasiswa.
Seorang lelaki bijak di masa lalu pernah
berkata,
Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap
pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.
Tanamkan niat bahwa
keberadaan kita di kampus ini adalah dalam rangka belajar dan membina diri
untuk menjadi manusia unggul yang kelak akan mengubah negerinya bahkan mengubah
dunia. Untuk itu kita juga harus memastikan pembelajaran kita tidak boleh
terbatas pada ruang-ruang sempit bernama kelas dan jadwal-jadwal kuliah yang
telah ditentukan dosen. Pembelajaran kita adalah pembelajaran yang luas.
Waktunya tidak terbatas jam dan hari. Tempatnya bisa di lapangan olahraga, di
panggung seni, di kantin atau warung tempat kita berdiskusi, bahkan juga di
jalanan atau pelosok desa tempat kita melihat masalah dan belajar untuk jadi
bagian dari solusi.
Sekitar 35 tahun
yang lalu, Agustus 1977, sastrawan Indonesia bernama Rendra membacakan sebuah puisi
di hadapan mahasiswa-mahasiswa di Bandung. Puisi itu berjudul "Sajak
Sebatang Lisong". Dalam potongan sajaknya ia berkata,
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita
sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar
ke jalan raya, keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri
semua gejala,
dan menghayati persoalan yang
nyata.
Dan di akhir sajaknya ia berkata,
Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah
kehidupan.
Kalau ada satu
inspirasi lagi, kita bisa mendapatkannya dari sebuah wilayah timur Papua
Nugini; yaitu sebuah tempat bernama Bouganville. Bouganville pernah menjadi
tempat konflik antara penduduk asli dan pendatang. Penduduk asli terusir ke
hutan sehingga hidup dalam keterbatasan. Justru dalam keterbatasan mereka
berkembang. Mereka tumbuh menjadi masyarakat yang kuat dan menciptakan berbagai
alat dengan memanfaatkan sumber daya alam yang terbatas yang ada di sekitarnya.
Mereka memegang slogan Mekim Na
Savvy yang artinya "Belajar Sambil Berkarya".
Mekim Na Savvy yang artinya
“Belajar Sambil Berkarya” ini juga bisa kita jadikan slogan untuk hari-hari
kita di kampus. Hari-hari yang penuh karya. Hari-hari yang penuh oleh hal-hal
produktif. Masa muda adalah masa emas untuk berkarya. Kalau kita jengah dengan
kondisi yang ada di sekitar kita, maka berbuatlah sesuatu.
Setiap orang dari
kita pasti memiliki minat di salah satu bidang kontribusi. Baik itu bidang
seni, budaya, olahraga, sosial, politik atau yang lainnya, jadikan ia medan
perjuangan untuk menghasilkan sebuah karya bagi almamater dan masyarakat luas.
Karya terbaik hanya
lahir dari kolaborasi dan sinergi potensi-potensi yang ada. Untuk itu
pembelajaran dan kontribusi yang kita lakukan mesti dibungkus dalam kolaborasi
dan sinergi antarelemen. Kolaborasi dan sinergi dalam suasana kekeluargaan
inilah yang akan melipatgandakan nilai karya yang bisa kita hasilkan. Generasi
muda adalah cerminan masa depan bangsa. Jika kita mampu bersatu dalam
kontribusi yang sinergis di masa muda, maka kita juga bisa optimis bahwa kelak
bangsa ini dapat bersatu dalam kontribusi yang sinergis untuk meraih
kejayaannya.
Belajar, berkarya,
bersinergi. Tiga hal yang merangkum masa-masa emas kita sebagai mahasiswa.
Semoga dengan tiga hal itu kita bisa menjadi bagian dari kebangkitan dan
kejayaan negeri ini.
Hidup
mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!
***
sebelum orasi, panitia PMB minta saya bikin naskah karena panitia2 dari kalangan dosen pengen tau saya mau ngomong apa. akhirnya tulisan ini dibuat. pada kenyataannya, tentu ngga persis sama. bahkan, ada beberapa bagian yang saya tambahin (improvisasi) waktu orasi dan ternyata justru itu yang diinget sama orang-orang. tapi karena yang terdokumentasi adalah teks ini bukan orasi aslinya, jadi ini yang bisa saya masukin ke blog :)
orasi yang bergelora dalam jiwa, membangunkan yang tertidur dalam angannya, membangkitkan yang terkubur dalam dunia!!
BalasHapusHidup Mahasiswa!!Hidup rakyat Indonesia!!