coba luangkan waktu sejenak untuk mengenang masa ketika sma 3 menjadi satu bagian dari mimpi kita. ketika sma 3 baru ada di pikiran kita. ketika secara status, kita belum menjadi siswanya. saat itu mungkin kita membayangkan betapa hal itu menjadi obsesi. saat itu mungkin kita membayangkan bisa menjadi bagian dari sejarahnya. menjadi siswanya, seperti orang-orang terdahulu yang kita kenal. lalu pada akhirnya mimpi itu pun tercapai.
setelahnya, secara otomatis tak ada lagi dalam pikiran kita cita-cita untuk bisa menjadi siswa sma 3 karena status itu sudah kita dapatkan. maka bergeserlah mimpi kita menuju status lain yang kita cari. entah itu menjadi seorang ketua organisasi, aktif di sekolah, berprestasi di bidang akademis, atau mungkin juga sekedar status yang tidak formal seperti populer, eksis, berpengaruh, kuat, atau entah status apa yang mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita sesederhana apapun status itu. sejak pertama kali kita menjejakkan kaki sebagai siswa sma 3 sampai saat ini, mungkin proses itu terus berjalan. proses untuk mengejar status yang kita inginkan. menjalani proses yang saya sebut proses 'menjadi seseorang'.
katanya, "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya". menjadi siswa sma 3, menjadi ketua organisasi, menjadi populer, menjadi mahasiswa ITB, menjadi tentara, menjadi dokter, menjadi pengusaha, menjadi presiden, atau menjadi apapun kita, bisa mengantarkan kita pada status itu. status 'sebaik-baik manusia'. sekali lagi, semua status itu, BISA mengantar kita pada status 'sebaik-baik manusia'. bisa, karena memang tidak mustahil. bisa, karena mungkin juga tidak. bisa, juga karena belum tentu.
status ‘sebaik-baik manusia’ hanya akan didapat ketika kita bisa memenuhi syaratnya: bermanfaat bagi manusia. terdengar klise, tapi begitulah hidup. mengandung banyak kalimat klise yang lahir dari lisan manusia-manusia besar. maka, saat kita mengabaikan ungkapan-ungkapan klise yang sering kita dengar, bisa jadi bukan karena kedangkalan makna dari kalimat itu, tapi lebih disebabkan pikiran kita yang terlalu 'sederhana' hingga tak sanggup mengikuti jalan pikir mereka: manusia-manusia besar yang mengukir sejarah dengan mahakarya. Dan sebagian dari karya mereka adalah hikmah 'klise' yang yang mereka ucapkan dan sampai di telinga kita tapi seringkali hilang dalam sekejap dari pikiran kita.
di salah satu edisi JALAN TOL, pernah ada kalimat yang bunyinya kira-kira begini, "sukses belum tentu bermanfaat, tapi bermanfaat sudah pasti sukses". maka saudaraku, jika menjadi siswa sma 3 adalah sebuah kesuksesan, menjadi mahasiswa ITB adalah sebuah kesuksesan, menjadi dokter adalah sebuah kesuksesan, menjadi pengusaha adalah sebuah kesuksesan, atau menjadi presiden adalah sebuah kesuksesan, pada dasarnya kesuksesan itu baru menyentuh kesuksesan individu. Kesuksesan yang paling rendah. Bahkan, sebagian orang menganggap ia bukanlah kesuksesan. Karena nilai hidup kita sebagai manusia, terletak pada sejauh mana kita bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia lain. Sejauh mana hidup kita menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain. Inilah yang dilakukan oleh manusia-manusia besar sepanjang sejarah. Mereka pastilah orang-orang yang hidupnya betul-betul berdampak bagi masyarakat. Bukan hanya masyarakat dalam cakupan lingkungan tempat tinggal. Tapi lebih jauh lagi masyarakat dunia.
Di samping itu, sukses juga bisa mengantar kita pada predikat ‘seburuk-buruk manusia’. Beberapa kali saya mendengar langsung dari mahasiswa ITB bahwa yang membangun Indonesia memang orang-orang ITB. Tapi, alumnus ITB juga yang membuat Indonesia hancur lebur. Para koruptor kelas kakap di negeri ini, jelas bukan orang bodoh. Mereka bukan orang susah. Tapi dengan kapasitas mereka-lah dengan mudahnya bangsa ini bisa ‘diacak-acak’.
Kini kita semakin dekat ke terminal yang akan mengantar kita pada mimpi yang baru. mimpi kita selanjutnya. Ke gerbang mimpi untuk menjadi seseorang yang lebih lagi. menjadi mahasiswa kampus mana pun, atau mungkin tidak menjadi mahasiswa sekalipun, yang pasti status kita akan berubah dan kita telah memiliki bayangan sendiri, status apa yang kita harapkan melekat pada diri kita setelah lulus. begitu pun setelahnya.
Tapi, hati-hati, kawan.. Jangan terjebak dalam proses ‘menjadi seseorang’. Setelah lulus, misalnya, kita boleh saja membayangkan diri kita selanjutnya menjadi apa. lalu setelah menjadi mahasiswa, kita akan menjadi apa lagi. begitu terus sampai akhirnya berakhir di ujung usia kita. Tidak salah jika kita menjalani proses ‘menjadi seseorang’. Yang perlu kita sadari, bukan itu akhir dari semua yang kita lakukan. Status-status itu hanyalah terminal-terminal bagi kita menuju status ‘sebaik-baik manusia’. Kesuksesan hidup yang kita raih adalah potensi. Semakin sukses hidup kita, semakin besar potensi diri kita. Potensi itu sendiri bisa diarahkan pada kebaikan maupun kebathilan. Dan kuncinya, bukanlah menjadi siapa kita, tapi seberapa besar manfaat yang kita hasilkan.
setelahnya, secara otomatis tak ada lagi dalam pikiran kita cita-cita untuk bisa menjadi siswa sma 3 karena status itu sudah kita dapatkan. maka bergeserlah mimpi kita menuju status lain yang kita cari. entah itu menjadi seorang ketua organisasi, aktif di sekolah, berprestasi di bidang akademis, atau mungkin juga sekedar status yang tidak formal seperti populer, eksis, berpengaruh, kuat, atau entah status apa yang mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita sesederhana apapun status itu. sejak pertama kali kita menjejakkan kaki sebagai siswa sma 3 sampai saat ini, mungkin proses itu terus berjalan. proses untuk mengejar status yang kita inginkan. menjalani proses yang saya sebut proses 'menjadi seseorang'.
katanya, "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya". menjadi siswa sma 3, menjadi ketua organisasi, menjadi populer, menjadi mahasiswa ITB, menjadi tentara, menjadi dokter, menjadi pengusaha, menjadi presiden, atau menjadi apapun kita, bisa mengantarkan kita pada status itu. status 'sebaik-baik manusia'. sekali lagi, semua status itu, BISA mengantar kita pada status 'sebaik-baik manusia'. bisa, karena memang tidak mustahil. bisa, karena mungkin juga tidak. bisa, juga karena belum tentu.
status ‘sebaik-baik manusia’ hanya akan didapat ketika kita bisa memenuhi syaratnya: bermanfaat bagi manusia. terdengar klise, tapi begitulah hidup. mengandung banyak kalimat klise yang lahir dari lisan manusia-manusia besar. maka, saat kita mengabaikan ungkapan-ungkapan klise yang sering kita dengar, bisa jadi bukan karena kedangkalan makna dari kalimat itu, tapi lebih disebabkan pikiran kita yang terlalu 'sederhana' hingga tak sanggup mengikuti jalan pikir mereka: manusia-manusia besar yang mengukir sejarah dengan mahakarya. Dan sebagian dari karya mereka adalah hikmah 'klise' yang yang mereka ucapkan dan sampai di telinga kita tapi seringkali hilang dalam sekejap dari pikiran kita.
di salah satu edisi JALAN TOL, pernah ada kalimat yang bunyinya kira-kira begini, "sukses belum tentu bermanfaat, tapi bermanfaat sudah pasti sukses". maka saudaraku, jika menjadi siswa sma 3 adalah sebuah kesuksesan, menjadi mahasiswa ITB adalah sebuah kesuksesan, menjadi dokter adalah sebuah kesuksesan, menjadi pengusaha adalah sebuah kesuksesan, atau menjadi presiden adalah sebuah kesuksesan, pada dasarnya kesuksesan itu baru menyentuh kesuksesan individu. Kesuksesan yang paling rendah. Bahkan, sebagian orang menganggap ia bukanlah kesuksesan. Karena nilai hidup kita sebagai manusia, terletak pada sejauh mana kita bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia lain. Sejauh mana hidup kita menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain. Inilah yang dilakukan oleh manusia-manusia besar sepanjang sejarah. Mereka pastilah orang-orang yang hidupnya betul-betul berdampak bagi masyarakat. Bukan hanya masyarakat dalam cakupan lingkungan tempat tinggal. Tapi lebih jauh lagi masyarakat dunia.
Di samping itu, sukses juga bisa mengantar kita pada predikat ‘seburuk-buruk manusia’. Beberapa kali saya mendengar langsung dari mahasiswa ITB bahwa yang membangun Indonesia memang orang-orang ITB. Tapi, alumnus ITB juga yang membuat Indonesia hancur lebur. Para koruptor kelas kakap di negeri ini, jelas bukan orang bodoh. Mereka bukan orang susah. Tapi dengan kapasitas mereka-lah dengan mudahnya bangsa ini bisa ‘diacak-acak’.
Kini kita semakin dekat ke terminal yang akan mengantar kita pada mimpi yang baru. mimpi kita selanjutnya. Ke gerbang mimpi untuk menjadi seseorang yang lebih lagi. menjadi mahasiswa kampus mana pun, atau mungkin tidak menjadi mahasiswa sekalipun, yang pasti status kita akan berubah dan kita telah memiliki bayangan sendiri, status apa yang kita harapkan melekat pada diri kita setelah lulus. begitu pun setelahnya.
Tapi, hati-hati, kawan.. Jangan terjebak dalam proses ‘menjadi seseorang’. Setelah lulus, misalnya, kita boleh saja membayangkan diri kita selanjutnya menjadi apa. lalu setelah menjadi mahasiswa, kita akan menjadi apa lagi. begitu terus sampai akhirnya berakhir di ujung usia kita. Tidak salah jika kita menjalani proses ‘menjadi seseorang’. Yang perlu kita sadari, bukan itu akhir dari semua yang kita lakukan. Status-status itu hanyalah terminal-terminal bagi kita menuju status ‘sebaik-baik manusia’. Kesuksesan hidup yang kita raih adalah potensi. Semakin sukses hidup kita, semakin besar potensi diri kita. Potensi itu sendiri bisa diarahkan pada kebaikan maupun kebathilan. Dan kuncinya, bukanlah menjadi siapa kita, tapi seberapa besar manfaat yang kita hasilkan.
ditulis untuk buletin Nasi Oedoek (MD-AF'08)
alhamdulillah, membaca ini serasa kembali menemukan energi untuk berjuang belajar di universitas kehidupan..keep writing.
BalasHapus