waktu SMP dulu, ada buku yg sangat membekas pada diri saya sampe sekarang. Judul bukunya "Kekuatan Cinta". buku ini adalah kumpulan tulisan Irfan Toni Herlambang di majalah Saksi (majalah politik). bukunya luar biasa karena cerita2nya sederhana tapi langsung dijelaskan hikmah luar biasa yg terkandung di dalamnya. salah satu dari 3 artikel yang paling membekas buat saya berjudul "Warna". Ini dia..
***

Ada dua orang anak selalu berkelahi. Dalam banyak hal mereka tak pernah akur. Mereka selalu berselisih paham. Saat yang satu berpendapat A, maka yang lain pasti punya pendapat yang berbeda. Mereka lakukan ini dimana saja. Di sekolah, di rumah ataupun di tempat bermain. Tentu saja, hal itu sangat merepotkan guru mereka karena mengganggu orang lain.
Suatu pagi ibu guru memanggil kedua anak itu. Ia meminta mereka masuk kedua ruangan berbeda. Ruangan itu hanya dipisahkan oleh sebuah tembok, namun ibu guru masih dapat melihat apa yang dilakukan mereka berdua dari kejauhan.
Di ruangan itu terdapat meja dengan selembar kertas yang terhampar di atasnya. Ibu guru meminta mereka menyebutkan apa warna kertas itu. Ah, lagi-lagi mereka berselisih paham. Anak yang pertama bilang, “Kertas itu putih!” Dari ruangan sebelahnya terdengar teriakan, “Bukan, bukan putih, kertas itu berwarna hitam!” Putih! Hitam! Putih!!! Hitam!!! Terdengar suara saling bersahutan.
Suara mereka semakin riuh. Perdebatan kedua anak itu makin sengit. “Hei, dasar buta warna, apa kamu tidak bisa melihat? Kertas itu putih, tahu!” Anak kedua tak mau kalah. “Buta warna? Hei, apa kamu tidak bisa membedakan antara hitam dan putih? Jelas-jelas itu kertas hitam.”
Mendengar itu semua, ibu guru berkata, “Tenang, tenang anak-anak. Sekarang coba, kalian kemari.” Ia mengajak kedua anak itu menghampirinya. “Nah sekarang, coba kalian berpindah tempat dan katakan apa warna kertas yang ada di atas meja itu.”
Kedua anak itu menurut. Mereka berpindah ruangan. Anak yang pertama berkata, “Hmm. Hii..hi..hitam, Bu.” Di ruangan yang lain terdengar suara yang serupa. Anak yang kedua berkata, “Putih, Bu.”
Keduanya benar. Ternyata ibu guru menyiapkan dua kertas yang berbeda buat mereka. Ia agaknya ingin memberikan hikmah bahwa saat mereka berselisih paham, bisa jadi sesungguhnya kedua anak itu benar. Tak ada yang salah dengan pendapat mereka. Hanya mungkin mereka melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda saja.
Teman, begitulah kita. Kita sering kali seperti dua anak kecil yang berselisih paham. Kita kerap berseteru, bermusuhan, dan tak pernah akur dalam banyak hal, dalam banyak situasi. Sayangnya, kita kerap pula tak mau mengalah, tak mau memahami, tak mau mengerti, dan tak mau mendengarkan ‘suara’ orang lain. Kita sering berpatokan pada diri sendiri dan menganggap semua pendapat kita adalah benar adanya.
Memang, ya memang, tak pernah ada kata keliru untuk berbeda pendapat. Tak ada yang salah dengan keragaman. Namun, agaknya kita harus lebih sering untuk bersatu dalam beberapa saat. Kita harus lebih sering untuk mau mengerti, mau memahami, dan mau mendengarkan orang lain. Kita harus lebih sering untuk mau ‘mengintip’ ruangan lain, sebelum kita mulai ‘menyebutkan warna’.
Kadang kita terlalu tinggi hati untuk mengakui kebenaran orang lain. Kita enggan untuk menyetujui pendapat mereka. Bukan karena pendapat mereka yang salah, tetapi karena kita tak mau merasa dikalahkan. Kita sering terpesona dengan rasa picik dan tak suka jika ada orang yang lebih baik. Kita memilih untuk tetap berpatokan pada diri sendiri dan membenarkan semua langkah yang kita perbuat.
Saya yakin akan selalu ada kebenaran jika kita memandang dengan cara yang berbeda, persepsi yang berbeda, dan sudut pandang yng berbeda. Sebab, menurut saya, tak ada kebenaran yang hakiki kecuali milik Illahi Rabbi.
Teman, cobalah untuk memahami persepsi orang lain sebelum kita berselisih paham.
***
tulisan ini saya siapin dari 2 tahun lalu, tp akhirnya saya publish hari ini.
bagi saya pribadi, tahapannya gini: punya pendapat sendiri, coba mengerti pendapat orang lain, ngambil sikap yg tepat.
sikap yg tepat ini bs tetep dg pendapat sendiri, bs ngikutin pendapat org lain, atau bs ngambil sikap baru. yang pasti, setelah kita saling ngerti, ngga hrs akhirnya kita sepakat & punya sikap yg sama. pd akhirnya, tetep hrs saling menghargai.
wallahu a'lam. semoga bermanfaat.
Saya suka tulisan-tulisan di blog ini (ga hanya tulisan ini), mendalam dan banyak pelajaran yang bisa saya petik. Terima kasih untuk postingan nya :)
BalasHapus