"kata dr. Fathul, kita ga mungkin bisa ngasih banyak ke orang lain kalo kebutuhan diri sendiri aja belum terpenuhi. jangan sampai sibuk di kemahasiswaan, tapi kapasitas ilmiah kedokterannya terabaikan ya. ngerjain LI harus jadi LI terbaik, di tutorial kita fokus. apalagi menyangkut kebutuhan teman2 setutor juga. jangan lupa belajar ya, tapi jangan sampe juga saking asyiknya belajar, lupa sama temen2 lain yang kepayahan ngerjain amanahnya. ayo belajar tawazun!"
***
tiba2 ada sms gitu.
walaupun saya yakin sms itu bukan cuma buat saya,
tapi tetep aja saya yakin itu untuk orang2 kaya saya.
di kepala yg ngirim pasti ada saya
(seolah "GR", tapi lebih tepatnya "rumasa" -_-)
walaupun ga sepenuhnya kata2 dr. Fathul sesuai sama realita,
tapi idealnya emang kaya gitu. yang gini yang "beurat"
Ust. Lutfi Hasan Ishaq pernah bilang (ga persis, tapi kurang lebih gini),
"dunia politik kemahasiswaan itu ada terutama bukan untuk ngontrol pemerintah, tapi untuk jadi panggung bagi mahasiswa2 yang terbina. setelah memiliki integritas akademik & non-akademik (karakter dsbg.), maka mereka harus muncul menjadi figur di tengah mahasiswa lainnya agar menjadi role model dan mereka dilatih untuk memobilisasi massa. menggerakkan mahasiswa lainnya untuk mau berubah".
berat kan?
makanya klo lagi ngobrol2 sama yasir-radit-hakam,
alesan paling gampang buat saya nolak jadi ketua AsySyifaa',
"karena bertahun2 ketua AsySyifaa selalu cum laude" :)
untuk saat ini, mestinya orang kaya saya emang cuma bantu2 aja di kemahasiswaan.
mereka yg prestasi akademik & non-akademiknya bagus yang mimpin.
tapi ujung2nya, klo diamanahin & siap mental,
"hajar aja lah, anggap aja jodoh"
sambil benerin diri sendiri, berkontribusi semampunya untuk ummat
*agak sedikit khawatir tulisan ini disalahpahami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar