Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam laku.
Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata.
Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon;
akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku.
Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
(Kata Terurai Jadi Laku - Anis Matta)
Saya masih inget kejadian skitar setahun lalu. Salah seorang sahabat saya, yg dalam suatu hubungan struktur keorganisasian posisinya di bawah saya, minta diganti dari posisinya. Kurang lebih, ini yang dia bilang waktu itu:
“tan, saya ngerasa ga optimal di amanah ini dalam 1 semester terakhir. Saya bukannya ga peduli. Saya ga bermaksud menelantarkan amanah ini. Saya cinta sama temen2, tapi saya ga bisa. Saya ga bisa ngejalaninnya dengan baik”.
Akhirnya, saya “merelakan” sahabat saya ini. Ya, boleh dibilang saya “merelakan” karena saya lebih suka dia bertahan dalam posisinya. Tapi yang terpenting, waktu itu saya merefleksikan kalimat itu ke diri saya sendiri beberapa lama.
(Maklum, saya manusia introvert. Di antara 8 kecerdasan versi howard gardner atau mypersonality.info pun kecerdasan yang paling menonjol dari diri saya adalah kecerdasan intrapersonal)
Setelah merefleksikan perkataannya ke dalam diri saya pun, saya merasa seolah perkataan itu juga bermakna “mestinya kamu juga mundur, tan”. Sampe sekarang, perasaan berat saat cinta ga sanggup diterjemahin jadi perbuatan itu masih tertanam di benak saya.
Saya rasa, masih sangat besar gap antara perasaan/hasrat saya untuk berbuat sesuatu untuk orang2 yang saya cintai dan apa yang bener2 udah saya kerjain. Tapi mungkin ada benernya apa kata orang, “kita menilai diri kita dari apa yang mau kita kerjain, orang lain menilai kita dari apa yg udah kita kerjain”.
Rasa cinta itu, ga cukup ada di dalam hati. Ga cukup sekedar mau. Ga cukup omong doang. Kalo kata temen2 fk unpad 2008: “SPIK” (baca: SPEAK alias ngemeng alias bacot).
Semoga kemampuan eksekusi saya terus membaik..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar