"Tapi Nak, perjalanan masih jauh. Bahkan masih sangat jauh. Kita harus bergegas agar tidak ketinggalan. Lihat! Sudah banyak orang yang mendahului kita. Mereka juga lelah, namun tetap melangkah. Ayo, kuatkan dirimu! Jangan terlalu lama berhenti di sini.. Jika nanti ada tempat berteduh, Ayah berjanji kita akan beristirahat sejenak".
"Yah, tak bisakah kita melewati jalan lain saja? Jalan pintas, atau jalan yang landai tanpa tanjakan? Jalan yang bisa dilalui tanpa harus bersusah payah?"
"Oh, jalan itu memang ada, Nak. Lihatlah, banyak juga di antara orang-orang itu yang mengambil jalan itu".
"Lantas kenapa kita harus mengambil jalan yang ini, Yah? Mengapa kita tidak ikut mereka saja?"
"Nak, jalan itu bukan jalan yang menuju ke arah yang kita tuju. Bagaimana bisa kita mengikuti orang yang tidak sama tujuannya dengan kita ? Bukan ke sana arah kita pulang. Jalan inilah yang menuju ke arah yang benar. Tempat kita pulang. Dimana rumah kenikmatan telah menanti kita. Di mana kesejukan akan menyapa kita setelah perjalanan yang panjang ini. Percayalah, semua kenikmatan itu akan terasa lebih nikmat bila kita sudah sampai".
"Mereka tampak gembira, Yah. Lihat! Bahkan mereka menertawakan orang-orang yang masih mengambil jalan ini. Mereka mengatai kita bodoh, Yah! Mereka juga mengajak untuk mengambil jalan yang akan mereka ambil. Tak bisakah kita ikut mereka saja?"
"Nak, apa yang tampak baik tidaklah selalu benar-benar baik. Sama dengan yang tampak buruk juga tidak selalu benar-benar buruk. Bisa jadi kita tidak menyukai sesuatu, padahal itulah yang terbaik bagi kita. Bisa jadi kita menyukai sesuatu yang justru buruk bagi kita".
"Tapi, Yah.."
"Nak, jangan takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. Mereka tidak lebih mengerti segala sesuatu tentang diri kita, tentang jalan pulang kita. Tentang rumah kita. Mereka memilih jalan yang mereka anggap baik, maka biarkanlah mereka. Mereka memilih jalan tempat mereka akan pulang, bukan tempat kita pulang. Sedangkan kita, kita memiliki tujuan. Memiliki rumah tempat kita akan pulang sendiri. Teguhkanlah dirimu di jalan ini. Karena jalan inilah yang kita butuhkan".
"Hmm, Yah, apakah ini perasaanku saja?
Tampaknya jumlah orang yang melalui jalan ini semakin menyusut".
"Memang demikianlah fitrah jalan ini. Orang yang melaluinya bisa dengan mudah berkurang dan berkurang. Hanya yang beruntung dan bersungguh-sungguh yang akan bertahan. Lihat, ada pohon rindang! Mari kita beristirahat sejenak.."
***
Saudaraku, tulisan ini hanya sedikit usaha dari seorang saudaramu yang mulai merasa lelah berjalan sendirian. Berjalan bersama sedikit orang itu melelahkan, meski jadi minoritas itu menyenangkan.
Terbayang indahnya berjuang bersama di jalan kemuliaan. Meski harus melewati berbagai cobaan, semuanya dilalui bersama. Saling menasehati dalam kesabaran dan kebenaran. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.
Saudaraku, orang-orang pilihan adalah yang mampu menerima amanah sebesar dan seberat apapun. Adalah yang selalu merendah hati, yang selalu berusaha meluruskan kesalahan, juga tak marah kala diingatkan. Adalah yang sanggup membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar orang yang dipilih dengan tidak sembarangan.
Orang-orang pilihan adalah yang tidak pernah mengeluhkan jauhnya perjalanan, beratnya permasalahan, dan tak cepat putus asa ketika menghadapi rintangan dan ancaman.
Kemenangan da’wah adalah janji ALLAH dan janji ALLAH itu pasti. Siapa yang berada di dalamnya adalah orang yang beruntung karena akan diberi karunia-Nya.
”Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada ALLAH dan mengerjakan kebaikan dan berkata, ”Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”?
Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” [QS.41:33-35]
171106
(dikutip dari tulisan seorang kakak dengan beberapa perubahan)
waktu lagi mau nyari materi buat buletin pembinaan AsySyifaa (BunBin),
ketemu tulisan ini. tulisan yang dulu saya sebarin ke temen2 furqaners08.
di bunbin, kisah ini saya tutup pake potongan tulisan saya yang
"Belajar Cinta di Lembah Kasih"
(dikutip dari tulisan seorang kakak dengan beberapa perubahan)
waktu lagi mau nyari materi buat buletin pembinaan AsySyifaa (BunBin),
ketemu tulisan ini. tulisan yang dulu saya sebarin ke temen2 furqaners08.
di bunbin, kisah ini saya tutup pake potongan tulisan saya yang
"Belajar Cinta di Lembah Kasih"
Assalamu’alaykum. Kak, saya izin share. Jazakallah khayr. -Janan Shofiyah A
BalasHapus