Senin, 06 April 2009

Kita lihat saja nanti #2

Cara saya memandang pemilu, politik & sebuah partai, bisa dibilang merupakan perpaduan antara IDEALISME & REALITAS. Mimpi tentang rakyat indonesia yang hidup sejahtera adalah mimpi bermodal idealisme, tapi mendukung sebuah partai adalah pilihan berdasarkan realitas.

"Mau jadi bagian dari solusi, atau tetap jadi bagian dari masalah?? Gunakan hak suaramu, kita bersihkan DPR dan DPRD.. Liat track record partai nya.. P**.. Bersih, bukan sekedar slogannya..", kata sahabat saya sejak SMP di status facebooknya.

"tapi, saudaraku..", saya coba nulis komentar. "sejak smp dulu kita udh sama2 tau, P** g akan slamanya bersih.. inget??
jadi, alasan kita milih P** taun ini lebih realistis:
P** ga sempurna, tapi taun ini, P** adalah pilihan terbaik. harapan terbesar ada di P**..
setelah semua partai besar pernah dikasih kesempatan mimpin Indonesia dengan segala kekurangan & kelebihannya, kasih P** kesempatan mimpin Indonesia 5 taun ini!!"

Selanjutnya, kita cuma semakin menegaskan realita yang sekarang terjadi.
Realita yang bikin sebagian orang terkaget, kecewa, bahkan benci. Realita yang sempat membuat saya berpikir ulang tentang pilihan terbaik, tapi untungnya setelah itu inget lagi cerita masa SMP. Cerita prediksi bahwa emang ini yang akan terjadi. Setelah itu saya berusah berpikir jernih lagi dan akhirnya kembali berpikir inilah pilihan terbaik untuk saat ini. Ya, untuk saat ini. Pilihan ini sama halnya dengan pilihan-pilihan lain. Banyak variabel yang menentukan, tergantung situasi-kondisi-dll ketika pilihan itu harus diambil.

"Saudaraku sebangsa setanah air, saya mengajak semuanya untuk mendukung perubahan menuju DPR bersih," kali ini seorang 'kakak' saya saat SMA nulis juga di status facebooknya. "contreng P** yang sudah teruji integritasnya, hari kamis besok, Bergabunglah bersama saya!.."

Dengan cara yang nyaris sama saya ingatkan tentang realitas dan pilihan. Tentang ketidaksempurnaan dan kekinian. Tak lama, bergantilah statusnya..
"P** emang jauh dari sempurna, tapi untuk saat ini, ialah yang lebih baik dan sudah menunjukan integritasnya. Saya mengajak saudara-saudaraku semua untuk mencontreng P** kamis besok!"

Sesederhana sekaligus serumit itulah saya memandang pemilu, politik, dan partai. Karena menurut saya, memilih perlu kebijaksanaan. Sedang kebijaksanaan, adalah perpaduan antara idealisme dan realitas.

--------------------------------------------
bercerita tentang logika yang tak tersampaikan.
kumpulan bahasa yang tak terucap.
tak tertulis di kesibukan manusia malam.

15 komentar:

  1. hmmmm,,,{mengelus jenggot}
    ternyata walopun galak, abi cerdas ya.
    masih bisa mikir [sadis mode:on], g dibutakan sm asumsi : partaiku-the-one-and-only-selamanya-sampe-kiamat..
    sip sip, satu contrengan untuk abi dariku..

    BalasHapus
  2. jadi slama ini tazki nganggap saya galak & ga cerdas ya? :(

    gimana pun, saya cuma berusaha tetep jadi moderat (bahasa qur-annya "wasathan") di tengah pikiran-pikiran orang yg serba radikal-ekstrem (bahasa kerennya "tatharruf")

    sekali lagi berusaha bijak:
    perpaduan IDEALISME & REALITAS :)

    BalasHapus
  3. saya menilai kadang2 orang yang "tercebur" dalam suatu aliran parte tu g cerdas, istilahnya kek melahap apapun yg diberikan..biarpun itu org dan parte islam sekalipun. syukurlah kalo abi bukan org seperti itu, maaf sudah salah menyangka.. =p

    [huahahaha :)) terlalu jujur y saya ngomongnya?? ah, abi kan kalo lagi dikritik kadang2 jadi G PUNYA HATI juga.. hahaha]

    BalasHapus
  4. ekstrimisme yg sy maksud bukan cuma yg tazki sorot. itu cuma salah satu yg mungkin terjadi.
    meninggalkan pilihan tsb hanya karena satu kekurangan juga bisa jadi gambaran ekstrimisme.

    yg pasti, biasanya sikap ekstrim muncul ketika logika ga dipake dgn bijak. termasuk, kalo dgn emosionalnya menilai orang lain salah dgn pilihan mereka.

    setiap sikap adalah pilihan.
    dalam perpaduan antara idealisme & realitas,
    saya pikir penguasaan realitas jauh lebih rumit ketimbang penguasaan idealisme.
    mempelajari realitas jauh lebih sulit dibanding mempelajari idealisme.

    realitas jauh lebih luas.
    diri kita terlalu kecil untuk bisa melihat dari semua sudut dalam memandang realitas.

    salah satu pelajaran pentingnya,
    hati-hati menilai orang lain benar atau salah
    :)

    BalasHapus
  5. bukan menilai. tapi mempertanyakan

    BalasHapus
  6. bahkan Allah-pun meminta kita terus berpikir kan?

    jadi,tidak pernah ada alasan sama sekali untuk kita berhenti berpikir dan menerima saja tanpa keyakinan yang benar-benar datang dari dalam hati.

    sambil terus menyadari dengan rendah hati,bahwa daya pikir kita bagaimanapun tercipta terbatas,mungkin belum bisa menjangkau semua sekaligus.
    perlu waktu,perlu niat yang bersih,perlu tekad yang kuat.

    semangat ya ade2...^o^

    BalasHapus
  7. menilai & mempertanyakan sama2 g ada salahnya.
    bisa jadi kurang bijak kalo dasarnya emosi, bukan rasio.

    saya bilang 'menilai' karena di komen tazki sendiri (di atas) yang bilang 'menilai'. intinya, apapun yang kita lakukan harus hati2.

    saya juga masih banyak belajar, termasuk dari tazki.
    selamat belajar & berkembang :)

    BalasHapus
  8. hahaha..
    dikutip euy!!

    alhamdulillah, pileg udah beres..
    partai yang ku menaruh harapan padanya di peringkat 4..
    jauh banget dari target super optimis yang dipasang bos2..

    dapet sedikit tambahan kursi di DPR alhamdulillah, semoga makin dewasa ngurus negara..
    blm ditakdirkan jadi pemimpin puncak, ya baguslah..
    biar bener2 siap dan layak memimpin di masa selanjutnya..

    BalasHapus
  9. oh iya, yasir t ngomen jg disini.
    y udh, sir.
    skrg prioritas utama kita adalah nyiapin diri supaya pas waktunya nanti, kita bisa beramal lebih baik lagi dari orang2 terdahulu.

    bisa ngehasilin sesuatu yang lebih baik untuk bangsa ini, untuk umat ini, & untuk Tuhan seluruh manusia..
    Berjanjilah, saudaraku!!

    BalasHapus
  10. Hmm..
    Janji ga yaaa??

    Engga, janji, engga, janji, engga, janji, engga, janji..
    Yaaah.. kancingnya berenti di "janji"..

    Huuh.. Oke2..
    Aku janji deh..
    Bismillah..



    Hmm..
    Beberapa hari yang lalu aku baca sebuah setatus di fb..
    Kurang lebih isinya bilang : kalo ada Capres-Cawapres yang bisa menyejahterakan dia, dia bakal pilih itu..
    Hmm.. Setelah itu setatus tsb diperbaharui dengan 2 status lainnya, yang isinya kurang lebih mual ama omongan Capres-Cawapres.. Ga percaya gituh..


    Cing..
    Apa pandangan Tanri tentang setatus ituh?? Terutama setatus yang pertama..

    BalasHapus
  11. nanya te nu kararitu si yasir mah.
    ntar lah ya.. udh malem, bsk2 sy kasi komen lg

    BalasHapus
  12. nu karitu kumaha Tan?

    da aku punya pandangan yang penting buat diriku sendiri tentang ituh..

    BalasHapus
  13. Tan..
    tambahan..


    apa pandanganmu terhadap orang golput?

    BalasHapus
  14. ttg status yg di atas sama org golput, ada jawaban yg sama:
    itu pilihan mereka, bukan pilihan saya.
    mereka mungkin bener, tapi saya yakin udah ngambil sikap terbaik.
    saya bersikap udah berdasarkan perhitungan, tapi ga ngerasa lebih pinter dari mereka yang beda pilihan.
    Wallahu a'lam.. (pikirin aja maksudnya ya, sir^^)

    BalasHapus